Sabtu

Just Listen (Hanya Dengan Mendengar!)

Percayalah, terkadang manusia hanya inginkan ‘didengar’. Karena dengan didengar, manusia merasa dihargai, disayangi dan dihormati. Jika ingin dicintai, cukuplah dengan menjadi pendengar. Tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya dengar…

Saya sendiri melakukan berbagai kesalahan dan kekhilafan dalam hidup akibat tidak mendengar. Saya kira, dengan berkata-kata bisa meraih kemesraan. Rupanya tidak. Diri ini akan lebih dicintai, jika menjadi pendengar.

Orang pasti pernah mendengar di  radio, di tv  dsb, apabila masyarakat menghubungi pakar motivasi, ulama, ustadzah dan pendakwah. Acapkali mereka bukan meluahkan masalah. Mereka hanya bercerita mengobrol… mengapa? Ya, mereka hanya ingin didengar.

Alangkah indahnya jika punya waktu dan sedia meluangkannya untuk menjadi pendengar. Kehausan untuk didengar ialah pertanda kehausan kasih sayang dan cinta. Manusia mencari siapa yang sudi menjadi pendengar untuk diluahkan segala dan semua yang dirasa. Sekali lagi, bukan inginkan penyelesaian tetapi hanya inginkan penghargaan dan kasih sayang: dengar...

Bertekad untuk menjadi pendengar. Ketapkan mulut dan bukakan hati dan telinga untuk mendengar. InsyaAllah, kasih sayang akan bertaut dan berbunga kembali. Jangan biarkan isteri, suami, anak, saudara, teman menanti nanti. Memulai dengan tugas cinta yang pertama: Just listen, hanya dengan mendengar…


-HANYA DENGAN  MENDENGAR-

Manusia ingin didengar, sama dengan manusia butuh makan dan minum. Tanpa makan dan minum akan lemahlah jasad, sakitlah badan. Tanpa didengar akan tumpullah perasaan dan lumpuhlah emosi. Manusia yang membesar tanpa diberi hak didengar akan menjadi manusia yang kurang cerdas emosinya apabila dewasa kelak. Dia akan gagal mengurus perasaan marah, kecewa, takut dan dendamnya. Orang yang begini, akan gagal dalam hidupnya.

Pentingnya didengar dalam hidup seseorang itu hingga menyebabkan Pepatah pandai mengungkapkannya melalui kata-kata hikmah yang berbunyi: “Tugas cinta yang pertama ialah mendengar.”

Artinya, kekasih yang baik ialah kekasih yang mendengar rintihan, keluhan, aduan dan rayuan pasangannya. Justru, dengan mendengar cinta akan lebih subur dan harum.

Orang yang banyak mendengar akan banyak belajar dalam hidup ini. Orang yang banyak mendengar bukan saja banyak pengetahuan tetapi akan banyak kawan dalam masyarakat. Mungkin karena itu Allah ciptakan diri dengan dua telinga dan satu mulut sebagai simbolik, kurangkan berkata-kata tetapi banyakkan mendengar. Malangnya, kebanyakan manusia lebih suka “memperdengarkan dan berbicara” daripada mendengar  orang lain.

Lidah selalu menyebabkan telinga menjadi tuli. Dalam pergaulan, selalu saja ingin memonopoli perbualan. Katanya dengan banyak berbicara diri akan terlihat pandai dan bijak berbanding orang yang diam. Kebanyakan diri menyangka orang yang diam itu bodoh. Tidak ada ide dan pendek wawasan. Sedangkan diam itulah terpuji dan bermanfaat. Kata Pepatah pandai: “Diam itu banyak hikmahnya tetapi sangat sedikit sekali orang mengambil manfaatnya.”

Mencoba lihat orang di sekeliling  dan lihat diri sendiri. Apakah diri ini banyak mendengar daripada berkata-kata? Maaf, kerap kali diri ingin jadi  jagoan yang tidak henti-henti berkokok di mana-mana. Bila berbicara diri seolah-olah serba tahu. Mengetuai perbualan, menjuarai percakapan. Mengapa?

Ya, sering terjadi pangkat, harta, nama serta jabatan menyebabkan seseorang tidak sudi lagi menjadi pendengar. Pangkat ku lebih tinggi, aku bicara kau dengar. Nama ku lebih tersohor, jangan coba-coba mencelah bila aku berbicara. Kau tak layak menasihati aku, ilmu ku lebih tinggi. Begitulah yang kerap diri lihat dalam kehidupan. Bukan orang lain pelakunya tetapi diri ini sendiri..

Apakah dengan mendengar diri menjadi hina, miskin dan tidak ternama? Jika itulah anggapan jelas sudah salah. Menjadi pendengar menjadikan diri orang yang tawadhu (rendah hati). Orang yang tawadhu akan ditinggikan Allah. Orang yang mendengar akan lebih banyak belajar daripada orang yang asyik berkata-kata.

Semakin banyak belajar semakin banyak ilmu yang diperoleh. Dan bila semakin banyak ilmu yang dimiliki, maka semakin tinggilah darajat diri di sisi Allah dan manusia. Dalam Al Quran Allah telah menegaskan bahwa darajat ahli ilmu itu ditinggikan oleh-Nya berbanding orang yang tidak berilmu..

Justru, Allah yang Maha Pencipta juga bersifat Maha Mendengar  “sami”. Dan salah satu nama Allah yang baik dan indah ialah as Sami’. Allah maha mendengar rintihan, aduan, kebimbangan, luahan rasa dari hamba-hambanya pada setiap waktu, tempat dan ketika. Allah adalah “kekasih” setia yang sentiasa mau mendengar rintihan hamba-hamba-Nya. Jika kekasih di kalangan manusia akan jemu jika masalah yang sama diceritakan berulang-ulang kali sebaliknya Allah tidak sebegitu. Allah bersedia selalu mendengarnya.

Jika ada jutaan manusia mengadu dan merintih kepada Allah, Allah tetap mendengar semua rintihan itu dengan terang dan jelas. Sedangkan seorang  ulama, pengacara, hakim dsb yang terbaik sekalipun tidak mampu mendengar dua, tiga masalah dari klien yang berbeda pada suatu waktu dalam keadaan serentak.  Inilah kehebatan Allah sebagai As Sami’. Bukan saja Allah mau mendengar bahkan mampu mendengar seluruh pengaduan hamba-Nya pada satu waktu!

Allah mulia dan agung karena kesediaan-Nya mendengar rintihan dan pengaduan manusia. Begitu juga jika ada manusia yang mau mendengar rintihan dan pengaduan manusia lain… dia juga akan ditinggikan darajatnya. Allah mau mendengar rintihan semua manusia tanpa melihat pangkat, derajat, harta dan rupa paras. Allah mendengar permintaan seorang raja, Allah juga mendengar rintihan seorang hamba. Allah Maha Adil…

Seorang yang sakit, datang merintih karena penyakitnya… Allah mendengar. Seorang menteri mengadu hal-hal negara… Allah mendengar. Seorang isteri mengadu hal rumah tangga… Allah mendengar. Apa pun dan dari siapapun Allah tetap mendengar. Mintalah hal sekecil-kecilnya dan Mintalah hal yang sebesar-besarnya, Allah tetap  mendengarnya. Dari rintihan seorang pengemis yang merayu untuk mendapatkan sesuap nasi, sampai seorang yang soleh yang memohon syurga, Allah tetap mau mendengar, justru Allah itu bukan saja mendengar tetapi Dia Maha mendengar!

Sebaliknya, manusia terlalu ego dan bersikap berat sebelah termasuk dalam soal mendengar ini. Ya, jika orang yang berbicara tinggi pangkatnya, maka dia akan siap senyap terpaku membisu untuk mendengarkan. Tetapi jika yang bersuara itu orang bawahan, maka dia mendengar dengan cepat-cepat memotong pembicaraan sebelum orang bawahannya itu dapat menghabiskan percakapannya. Kalau sikaya menegur, semua tunduk patuh. Tetapi bila si miskin yang mengadu, banyak yang berpaling dan menunjukkan reaksi tak suka.

Namun tidak begitu keadaannya pada insan bernama Muhammad saw. Baginda seorang yang sentiasa memberi hak mendengar kepada sahabat, istri dan pengikut-pengikutnya. Walaupun, baginda “orang besar” yang memimpin negara, tetapi masih sempat mendengar rintihan anak kecil yang terbiarkan di tepi jalan. Di dalam musyawarah, baginda sering mendengar pendapat sahabat-sahabatnya. Terkadang baginda ada usulan, tetapi yang dirasakannya ada usulan lain yang lebih tepat, maka diambilnya usulan yang lebih tepat itu!

Itulah Rasulullah saw yang paling berjaya meniru sifat As Sami’ Allah swt. Bagaimana dengan diri ini? Ah, malang,terkadang pangkat tidaklah setinggi mana, namun egonya sudah setinggi langit. kononnya dirilah yang paling bijak dan mulia. Jika dalam satu majelis diri tidak dialu-alukan dengan kata-kata sambutan, maka merasa dipinggirkan. Jika dalam musyawarah kita tidak diperslihkan berbicara, terasa orang menafikan dan tidak menganggap keintelektualan, gelaran dan jabatan diri.

Orang tidak perlu banyak cakap untuk disenangi dan disayangi, cukup dengan menjadi pendengar. Lihat mata orang yang berbicara, buka telinga dan hati, dengarlah dengan penuh simpati dan empati, niscaya orang akan jatuh hati. Bila anak-anak menghampiri, pegang tangannya dan ucapkan, apa yang kamu ingin katakan? Ayah atau ibu sedia mendengarnya. Jika pekerja bawahan datang di muka pintu rumah lalu memberi salam, jawab salamnya dan ajak dia mendekat dan dengar luahan katanya.

Dengarlah bisikan orang di sekeliling diri ini. Insya-Allah, diritidak akan terpaksa mendengar jeritan. Berapa banyak bisikan yang dibiarkan yang akhirnya bertukar menjadi jeritan yang memeritkan. Isteri ingin mengadu, suami menjauh. Anak hendak berbicara, ibu-bapa membentak menyuruh diam. Pekerja ingin berbincang, dituduh ingin mogok. Rakyat ingin memberitahu, kononnya pemimpin serba tahu..


Terlalu banyak bisikan yang dipinggirkan dan disisihkan. Akhirnya, bisikan menjadi jeritan. Anak derhaka, isteri nusyuz, diceraikan suami, pekerja lari, rakyat berpaling. Semuanya gara-gara dan angkara sikap tidak ingin mendengar.

Dendam Itu...

Insomnia sangatlah menyiksa diri, tidak bisa merasakan nikmatnya tidur nyenyak. Ingin seperti oranglain yang bisa tidur dengan mudah, mempunyai kualitas tidur yang bagus. Kalau keseringan insomnia lama-lama bisa terkena penyakit, organ dalam rusak, begitulah kata pakar kesehatan.

Nah, ketika insomnia itu hal-hal yang membuat hati terasa sakit, terbayang semua dipelupuk mata. Contohnya ketika diri mengalami pelecehan seksual, di fitnah oleh semua teman kerja, di adu dombakan, ditelantarkan sebagai anak, di suruh mengakui hal yang tidak dilakukan, di katai maling dsb. Sangat membuat diri trauma? iya. 

Dan atas kejadian pahit itu, membuat diri menaruh dendam kepada orang yang menurut diri "Kejam" alias si antagonis dalam hidup ini.

Jikalau diri terlahir sebagai orang yang kejam juga dan berani, pasti sudah tak segan untuk membalas semua kejahatan orang orang itu. Bahkan secara kasarnya matikan saja sekalian, agar puas.

Tapi, diri ini punya iman, tidak membiarkan diri terbujuk rayuan setan, tidak membiarkan diri tenggelam dalam rasa dendam. 

Karena Allah, mampu menenangkan hati ini, meredam semuanya. Berdoa, semoga mereka yang jahat sadar akan kesalahan, sadar karma selalu ada. Karma itu, kalau tidak kepada orangnya, bisa ke adiknya, bisa saja ke anaknya, kasihan. Tanpa hamba minta Allah untuk membalas kejahatan mereka, pasti Allah akan tetap membalas mereka dengan cara terbaik dari-Nya.

Sore itu, Aang duduk santai didepan pc nya. Lalu diri ini bertanya "Ang apakah pernah disakitin orang? dan karena sakit hati itu menciptakan dendam, bagaimana aang menyikapinya?"

"Kalau ngobrolin sakit hati mah banyak, redamkan dengan wudhu, dzikir, mendekatkan diri sama Allah biar hati tenang lagi"

"Pasti jawabannya seperti itu, yang lainnya ang"

"Sadar dunia itu hanya sementara. Hidup ini terlalu singkat kalau dihabiskan dengan mendendam. Dan orang yang benci sama kita itu akan selalu ada. Sebaik-baiknya akhlak kita, sebenar-benarnya hal yang kita lakukan, akan tetap ada orang yang tidak suka, mencari kesalahan dari diri. Lihat Rasulullah hamba Allah yang paling sempurna akhlaknya, tetap ada yang benci, berusaha mencelakai, apalagi kita hamba Allah yang serba kekurangan"

Sejak mendengar jawaban dari beliau, dendam kesumat yang ada dalam hati ini seakan sirna. Sekali-kali kejadian pahit akan teringat, karna tak pernah ada alat yang bisa menghapusnya. Aggaplah seperti angin lewat. Bagaimanapun itu ujian, diri ini seorang hamba yang harus siap di uji.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Waktu terus berputar dan beragam peristiwa ikut mengiringi derap langkah kehidupan manusia. Adalah kenyataan bahwa problematika hidup bermasyarakat sangatlah kompleks. Yang demikian itu karena masyarakat berikut seluruh lapisannya memiliki karakter dan kepribadian yang tidak sama.
Demikian pula tingkat pemahaman tentang agama dan kesiapan untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari pun sangat beragam. Oleh sebab itu, masing-masing individu hendaknya memiliki kesiapan jiwa yang bisa menjadi bekal menghadapi keadaan apapun dengan tepat. Di antaranya adalah sikap tabah dan lapang dada yang didukung oleh ilmu syariat. Bisa dikatakan, secara umum orang itu siap untuk dipuji dan diberi, namun sangat berat jika dicela dan dinodai. Di sinilah ujian, apakah seseorang mampu menguasai dirinya saat pribadinya disinggung dan haknya ditelikung. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang mampu menahan amarahnya seperti firman-Nya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (Ali ’Imran: 134)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa orang yang mampu menahan dirinya di saat marah dia sejatinya orang yang kuat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114)


-Memaafkan-

Memaafkan adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu bersabar terhadap gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta memaafkan kesalahan orang padahal ia mampu untuk membalasnya. Gangguan itu bermacam-macam bentuknya. Adakalanya berupa cercaan, pukulan, perampasan hak, dan semisalnya. Memang sebuah kewajaran bila seseorang menuntut haknya dan membalas orang yang menyakitinya. Dan dibolehkan seseorang membalas kejelekan orang lain dengan yang semisalnya. Namun alangkah mulia dan baik akibatnya bila dia memaafkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)

Ayat ini menyebutkan bahwa tingkat pembalasan ada tiga:

Pertama: Adil, yaitu membalas kejelekan dengan kejelekan serupa, tanpa menambahi atau mengurangi. Misalnya jiwa dibalas dengan jiwa, anggota tubuh dengan anggota tubuh yang sepadan, dan harta diganti dengan yang sebanding.1

Kedua: Kemuliaan, yaitu memaafkan orang yang berbuat jelek kepadanya bila dirasa ada perbaikan bagi orang yang berbuat jelek. Ditekankan dalam pemaafan, adanya perbaikan dan membuahkan maslahat yang besar. Bila seorang tidak pantas untuk dimaafkan dan maslahat yang sesuai syariat menuntut untuk dihukum, maka dalam kondisi seperti ini tidak dianjurkan untuk dimaafkan.

Ketiga: Zalim yaitu berbuat jahat kepada orang dan membalas orang yang berbuat jahat dengan pembalasan yang melebihi kejahatannya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 760, cet. Ar-Risalah)


-Kedudukan yang mulia-

Memaafkan kesalahan orang acapkali dianggap sebagai sikap lemah dan bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Bila orang membalas kejahatan yang dilakukan seseorang kepadanya, maka sejatinya di mata manusia tidak ada keutamaannya. Tapi di kala dia memaafkan padahal mampu untuk membalasnya, maka dia mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia.

Berikut beberapa kemuliaan dari memaafkan kesalahan.

1. Mendatangkan kecintaan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Fushshilat ayat 34-35:
  
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35)

Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan: “Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109)

2. Mendapat pembelaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Al-Imam Muslim rahimahullahu meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek. Aku bersabar dari mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

Jika benar yang kamu ucapkan maka seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa mendapat penolong dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim)

3. Memperoleh ampunan dan kecintaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (At-Taghabun: 14)

Adalah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dahulu biasa memberikan nafkah kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah. Dia termasuk famili Abu Bakr dan muhajirin. Di saat tersebar berita dusta seputar ‘Aisyah binti Abi Bakr istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Misthah termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat menjelaskan kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taubat kepadanya. Setelah peristiwa itu, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian kepadanya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (An-Nur: 22)

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Betul, demi Allah. Aku ingin agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku.” Lantas Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu kembali memberikan nafkah kepada Misthah radhiyallahu ‘anhu. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/286-287)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا وَاغْفِرُوا يَغْفِرِاللهُ لَكُمْ

Sayangilah –makhluk– maka kamu akan disayangi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berilah ampunan niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampunimu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293)

Al-Munawi rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di antaranya adalah (sifat) rahmah dan pemaaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mencintai makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut.” (Faidhul Qadir 1/607)

Adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang yang memaafkan, karena memberi maaf termasuk berbuat baik kepada manusia. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala cinta kepada orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 134)

4. Mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun di sisi manusia

Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain, disamping tinggi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan dari orang lain atas lawannya, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi kawan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)


-Kapan memaafkan itu terpuji?-

Seseorang yang disakiti oleh orang lain dan bersabar atasnya serta memaafkannya padahal dia mampu membalasnya maka sikap seperti ini sangat terpuji. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan –pembalasan– maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.” (Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3394)

Demikian pula pemaafan terpuji bila kesalahan itu berkaitan dengan hak pribadi dan tidak berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit pun, kecuali bila kehormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dilukai. Maka beliau menghukum dengan sebab itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, tidaklah beliau disakiti pribadinya oleh orang-orang Badui yang kaku perangainya, atau orang-orang yang lemah imannya, atau bahkan dari musuhnya, kecuali beliau memaafkan. Ada orang yang menarik baju Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keras hingga membekas pada pundaknya. Ada yang menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang. Ada pula yang hendak membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun gagal karena pedang terjatuh dari tangannya. Mereka dan yang berbuat serupa dimaafkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini semua selama bentuk menyakitinya bukan melukai kehormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan permusuhan terhadap syariat-Nya. Namun bila menyentuh hak Allah Subhanahu wa Taala dan agamanya, beliau pun marah dan menghukum karena Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karena itu, beliau melaksanakan cambuk terhadap orang yang menuduh istri beliau yang suci berbuat zina. Ketika menaklukkan kota Makkah, beliau memvonis mati terhadap sekelompok orang musyrik yang dahulu sangat menyakiti Nabi karena mereka banyak melukai kehormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (disarikan dari Al-Adab An-Nabawi hal. 193 karya Muhammad Al-Khauli)

Kemudian, pemaafan dikatakan terpuji bila muncul darinya akibat yang baik, karena ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan. Misalnya, ada seorang yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan di mana dia berbuat jahat kepada anda. Bila anda maafkan, dia akan terus berada di atas kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dan menghukumnya sesuai kejahatannya sehingga dengan ini muncul kebaikan, yaitu efek jera. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menegaskan: “Melakukan perbaikan adalah wajib, sedangkan memaafkan adalah sunnah. Bila pemaafan mengakibatkan hilangnya perbaikan berarti mendahulukan yang sunnah atas yang wajib. Tentunya syariat ini tidak datang membawa hal yang seperti ini.” (lihat Makarimul Akhlaq karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 20)


-Faedah-

Ada masalah yang banyak dilakukan orang dengan tujuan berbuat baik, misalnya kala seseorang mengemudikan kendaraannya lalu menabrak seseorang hingga meninggal. Kemudian keluarga korban datang dan menggugurkan diyat (tebusan) dari pelaku kecelakaan. Apakah perbuatan mereka menggugurkan tebusan termasuk perkara terpuji, atau dalam hal ini perlu ada perincian?

Dalam masalah ini, yang benar ada perincian, yaitu melihat kondisi orang yang menabrak. Apakah dia termasuk orang yang ugal-ugalan dan tidak peduli siapa pun yang dia tabrak? Bila seperti ini, yang utama adalah tidak dimaafkan agar memunculkan efek jera. Juga agar manusia selamat dari kejahatannya. Tetapi bila yang menabrak orangnya baik dan sudah berhati-hati serta mengemudikan kendaraannya dengan stabil, maka di sini pun ada perincian:

1. Bila si korban punya utang yang tidak bisa dibayar kecuali dengan uang tebusan maka bagi ahli waris tidak ada hak untuk menggugurkan tebusan.

2. Bila si korban tidak punya utang namun dia punya anak-anak yang masih kecil dan belum mampu usaha, maka tidak ada hak bagi ahli waris untuk memaafkan pelaku.

Bila dua keadaan ini tidak ada, maka memaafkan lebih utama. (disarikan dari Kitabul ‘Ilmi hal. 188-189 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu)


-Manusia-manusia pilihan-

Orang yang mulia selalu menghiasi dirinya dengan kemuliaan dan selalu berusaha agar dalam hatinya tidak bersemayam sifat-sifat kejelekan. Para Nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan teladan dalam hal memaafkan kesalahan orang. Misalnya adalah Nabi Yusuf alaihissalam. Beliau telah disakiti oleh saudara-saudaranya sendiri dengan dilemparkan ke dalam sumur, lantas dijual kepada kafilah dagang sehingga berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan menanggung penderitaan yang tiada taranya. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak memuliakan hamba-Nya melalui ujian ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengangkat kedudukan Nabi Yusuf ‘alaihissalam sehingga menjadi bendahara negara di Mesir kala itu. Semua orang membutuhkannya, tidak terkecuali saudara-saudaranya yang dahulu pernah menyakitinya. Tatkala mereka datang ke Mesir untuk membeli kebutuhan pokok mereka, betapa terkejutnya saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika tahu bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam telah diangkat kedudukannya sebegitu mulianya. Mereka pun meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini. Nabi Yusuf ‘alaihissalam memaafkannya dan tidak membalas. Beliau ‘alaihissalam mengatakan:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan Dia adalah Maha penyayang di antara para Penyayang.” (Yusuf: 92)

Demikian pula Nabi Musa dan Nabi Khidhir ‘alaihissalam, ketika keduanya melakukan perjalanan dan telah sampai pada penduduk suatu negeri. Keduanya meminta untuk dijamu oleh penduduk negeri itu karena mereka adalah tamu yang punya hak untuk dijamu. Namun penduduk negeri itu tidak mau menjamu. Ketika keduanya berjalan di negeri itu, didapatkannya dinding rumah yang hampir roboh, maka Nabi Khidhir ‘alaihissalam menegakkan dinding tersebut.

Adapun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah manusia yang terdepan dalam segala kebaikan. Pada suatu ketika ada seorang wanita Yahudi memberi hadiah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa daging kambing. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu ternyata daging itu telah diberi racun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tahu bahwa daging itu ada racunnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala beliau tidak meninggal. Wanita tadi dipanggil dan ditanya maksud tujuannya. Ternyata dia ingin membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memaafkan dan tidak menghukumnya. (Bisa dilihat di Shahih Al-Bukhari no. 2617 dan Zadul Ma’ad 3/298)

Wallahu a’lam.

-teh rini & qurandansunnah.wordpress.com (Dikutip dari asysyariah.com Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc Judul: Memaafkan Kesalahan dan Mengubur Dendam)-

Sayang, Bahagia Itu Seperti Apa? Bahagiakah Kita?

Sepasang suami isteri sedang menaiki sepeda pada suatu petang. Suami di hadapan, manakala isterinya membonceng di belakang. Mereka melalui jalan didepan sebuah vila. Kebetulan di halaman vila tersebut sedang duduk pemilik dan isterinya sambil santai-santai minum.

Tiba-tiba pandangan kedua-dua pasangan suami isteri itu bertemu. Pasangan suami isteri yang sedang bersantai di halaman vila merenung pasangan suami isteri yang sedang bersepeda melalui jalan didepan vilanya.

Walaupun hanya seketika berpandangan tetapi hati mereka sempat berbicara…
“Alangkah bahagianya mereka,” bicara hati suami yang sedang mengayuh sepedea. “Rumah besar, duduk bersantai pula dengan menikmati makanan yang enak-enak. Isterinya cantik, villanya luas…”

Apa pula bicara hati suami yang sedang duduk bersantai di halaman vilanya?
“Oh, romantis sungguh suami isteri itu. Isterinya memeluk erat di belakang. Alangkah bahagianya mendapat seorang isteri yang disayangi. Tidak seperti aku, sekalipun mempunyai harta yang melimpah ruah tetapi aku tidak bahagia seperti mereka…” begitulah bisik hati si suami kaya itu.

Justru, siapakah antara kedua-dua mereka yang bahagia apabila masing-masing merasakan orang lain yang lebih bahagia? Apa ukuran sebuah rumah tangga yang bahagia? Mempunyai segala kekayaan dan kemewahan hidup? Rumah besar, perabot mahal dan kendaraan yang berjejer, itukah pertanda rumah tangga yang bahagia?

Jika itulah petanda bahagia, tentu saja rumah tangga Rasulullah dan isteri-isterinya tidak bahagia. Betapa sejarah telah menuliskan sering kali dapur rumah Rasulullah tidak berasap kerana tidak ada makanan untuk dimasak. Alas tempat tidur Rasulullah sangat kasar sehingga berbekas di belakang Baginda apabila tidur di atasnya. Namun, rumah tangga Rasulullah s.a.w. itulah yang paling bahagia dan hingga kini menjadi contoh teladan untuk kita ikuti.

Apa sebenarnya bahagia itu? Hakikat­nya ramai manusia masih tertanya-tanya dan teraba-raba tentangnya. Yang miskin berasa bahagia itu pada kekayaan. Namun apabila dia mencapai kekayaan, ada yang lain pula disangkanya bahagia, lalu itulah pula yang diburunya. Manusia tidak pernah merasa puas.

Bagi orang yang sakit, sehat itu bahagia. Sebaliknya pada yang sehat, itu bukan bahagia. Buktinya betapa banyak orang yang sehat tubuh badan tetapi muram jiwanya.
Bagi orang biasa, ternama dan termasyhur itu bahagia. Anehnya ramai pula orang ternama yang menyamar dan ingin lari daripada paparazi kerana benci dipublikasikan.


-Bahagia Itu dari Hati yang Tenang-

Jadi apa bahagia sebenarnya? Bahagia itu bukan dari luar ke dalam, sebaliknya dari dalam ke luar. Maksudnya, harta, nama dan lain-lain perkara berbentuk kebendaan dan luaran (duniawi) bukan penyumbang kepada kebahagiaan seorang manusia. Bahagia itu datang dari dalam diri dan sesuatu yang maknawi sifatnya.

Manusia tidak bisa melakukan segala hal sendiri, mengantungkan hanya kepada diri sendiri. Manusia harus bergantung kepada Allah, Penciptanya Yang Maha Mengetahui. Soal dalaman ialah soal hati atau roh. Itu sangat sedikit diketahui oleh manusia. Untuk mengetahui rahasia bahagia, manusia perlu kembali kepada Penciptanya (Allah).

Bahagia itu datang dari hati yang tenang. Hati yang tenang terlahir dari seringnya mengingat Allah. Dalam al-Quran Allah mengingatkan hanya dengan mengingati-Nya hati akan menjadi tenang. Firman Allah yang dimaksud: “Ketahuilah dengan mengingati Allah hati akan menjadi tenang.” (Surah al-Ra’d 13: 28)

Dengan berzikir hati menjadi tenang dan dengan ketenangan hati itulah ter­ciptanya kebahagiaan pada diri seseorang. Itulah arti kebahagiaan dari segi ilmiah­nya. Namun bagaimana pelaksanaannya?

Saya pernah mendengar kisah yang diceritakan oleh seorang istri tentang suaminya. Bayangkan, suaminya giat pergi ke masjid, kuat berzikir dan memakai serban serta jubah. Namun anehnya, suami itu sangat garang dan ganas. Pantang salah sedikit, isterinya akan dihardik, ditampar malah ditendangnya. Lalu kita bertanya-tanya, mengapa suami yang kuat berzikir itu jadi begitu? Mengapa zikir yang ditegaskan sebagai sumber ketenangan itu gagal memberikan ketenangan kepada suami yang pemarah itu?

Lalu kita bertanya, bagaimana faktor zikrullah (mengingati Allah) ini dapat dipraktikkan dalam rumah tangga agar rumah tangga itu benar-benar mendapat ketenangan dan seterusnya kebahagiaan? Apakah suami, isteri dan seluruh anggota keluarga perlu berzikir saja sepanjang masa? Atau mengapa setelah zikir dipraktikkan, rumah tangga masih tidak tenang-tenang juga? Di mana salahnya?

Ada sepasang suami isteri yang meng­hadapi masalah dalam rumah tangga. Isteri keletihan menguruskan anak-anak yang masih kecil manakala suaminya pula keletihan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka sama-sama letih. Setelah mendengar cerita bagaimana Siti Fatimah dan Sayidina Ali mendapat kekuatan daripada berzikir dengan kalimah Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahuakbar, mereka pun terus mengamalkannya. Sayangnya, mereka tidak mendapat ketenangan seperti yang dialami oleh Siti Fatimah dan Sayidina Ali.

Zikir sudah sama tetapi kenapa kesan pada hati berbeda? Sekali lagi, di mana salahnya?
Zikir itu bukanlah sekadar menyebut-nyebut kalimah zikir tetapi yang lebih penting menghayatinya dengan hati dan mempraktikkannya dengan perbuatan. Oleh sebab itu, zikir itu terbahagi kepada tiga dimensi – lidah (qauli), hati (qalbi) dan perbuatan (fi’li). Inilah yang hendak dipraktikkan oleh suami isteri agar rumah tangga bahagia.

Zikir pada lidah, banyak yang sudah tahu. Yakni lidah menyebut-nyebut kalimah zikir, pada saat solat, selepas solat, membaca al-Quran dan sebagainya. Dalam sebuah rumah tangga, perlu ada program zikir dalam keluarga, agar seluruh anggota keluarga berzikir secara berjemaah diamalkan secara istiqamah. Lantunan dzikir ambil saja dari zikir-zikir yang telah terbukti autentik dari petikan ayat al-Quran dan hadis-hadis yang sahih.

Tidak cukup sekadar “membaca” atau “menyebut” kalimah zikir, tetapi paling utama mesti dihayati maknanya. Jika Subhanallah, artinya Maha Suci Allah. Apa maksud Maha Suci Allah itu? Allah suci dari segala kekurangan dan kelemahan. Allah itu juga suci dari segala sifat buruk dan seumpamanya. Berlawanan dengan makhluk-Nya yang serba-serbi lemah, kurang dan hina.

Untuk menghayati zikir Subhanallah, seseorang mesti memahami makna dan pengertiannya. Untuk mengetahui dan memahami, seseorang mesti belajar. Setelah itu barulah mengerti Subhanallah itu dibawa dalam kehidupan dalam bentuk penghayatan apabila bertemu dengan berbagai insiden dalam rumah tangga. Katakan “Subhanallah” apabila Allah disifatkan dengan sesuatu yang negatif atau apabila berlaku sesuatu yang di luar dugaan sama ada buruk atau baik, suka atau duka, untung atau rugi dalam rumah tangga kita.

Tidak cukup dihayati sahaja, tetapi praktik “Subhanallah” itu hendaklah diterjemahkan dalam bentuk perbuatan. Segala tindakan oleh suami atau isteri mestilah mencerminkan mereka benar-benar menyucikan Allah. Orang yang benar-benar menyucikan Allah tidak akan marah-marah, menghardik apalagi memukul pasangannya. Adakah mereka berani berbuat demikian jika mereka merasakan yang suci, yang hebat dan kuat hanya Allah? Orang yang marah-marah  dan mudah naik angin boleh dianggap tidak menyucikan Allah dalam kehidupannya sebaliknya dia “menyucikan” dirinya sendiri.

Ya, kebahagiaan itu datang daripada ketenangan. Ketenangan itu pula datang daripada zikir. Namun bukan semua zikir menghasilkan ketenangan. Zikir yang menghasilkan ketenangan hanyalah zikir yang diamalkan secara berpade antara lidah, hati dan perbuatan. Hanya zikir yang berpadu itu yang memberi ketenangan pada hati untuk menghadapi berbagai cobaan dalam hidup.

Hati yang tenang akan bersyukur apa­bila menerima nikmat, sabar apabila ditimpa musibah, rela mem­beri maaf apabila difitnah, mudah meminta maaf apabila bersalah, qanaah dengan rezeki yang ada, tawakal apabila berusaha dan sentiasa bersangka baik dengan Allah dan manusia.


-ustad pahrol mohamad juoi-

Rabu

Relakan Perpisahan Itu Karena Allah

Kadangkala aku sendiri kebingungan. Bila ditusuk soalan demi soalan. Bagi yang telah merasa cinta, bagi yang belum merasanya. Cinta tidak habis-habis diperkatakan, walaupun telah berkali-kali aku pesankan bahwa cinta itu bukan Tuhan!

Dulu aku pernah mengingatkan diri sendiri, dipercayai lebih utama daripada dicintai. Namun, mengapa hati masih tidak mau percaya? terkadang, jalan berapi ditempuh jua.  Ah, bujukan nafsu terlalu. Sudah terantuk baru terngadah. Sudah berdarah, baru berubah.

Pada remaja yang terus bertanya.. Pada ‘retua’ yang terus meminta.. satu kepastian, satu panduan.. terus-terang kukatakan aku sendiripun terus bertanya dan terus meminta. Tidak mungkin aku memberikan apa yang aku tidak punya! Tetapi itu bukan alasan untuk menyerah. Mencari dan terus mencari, itulah yang lebih berharga. rasa belum memiliki adalah modal terpenting untuk memiliki cinta.. ya, cinta Allah.

Itulah cinta pertama dan cinta utama. Walaupun sudah berkali-kali kalimah itu disebutkan, tetapi yang mendengar cuma telinga dan akal, bukan jiwa dan hati. Hati masih tuli, Jiwa masih alpa. Bila dia berani berkata dan merasa, cinta yang dicari lebih baik daripada cinta yang ditemui!


-Kiranya berhenti sejenak dalam kelelahan bercinta. Mari kita istirahatkan hati dengan Relakanlah perpisahan itu karena Allah-

Pernahkah kita terasa tiba-tiba saja seolah-olah tidak mengenali pasangan kita? Mengapa dia menjadi “manusia lain”? Seakan-akan kita belum pernah mengenalinya walaupun telah berumahtangga sekian lama. Jika kita pernah mengalami perasaan itu, jangan terkejut. Ia adalah perkara biasa. Bukan sesuatu yang luar biasa.

Itu semua gara-gara warna sebenarnya (true colours) pasangan kita mula terserah. Satu demi satu wataknya yang tersirat mula tersurat. Mengikut kajian pakar perkawinan, hanya setelah usia lima tahun perkawinan, barulah masing-masing (suami dan isteri) mengeluarkan semua sikap dan perangai mereka yang tersembunyi.

Pernah kita dengar  bagaimana keluhan seorang isteri tentang  suaminya. Katanya, “setelah tiga bulan perkawinan barulah saya sadar bahwa suami saya sebenarnya seorang yang pemarah.” Ironinya, mungkin pasangan itu telah bercinta (berpacaran) tiga tahun sebelum mereka menikah. Bayangkan, tiga tahun bercinta tanpa mengenal diri kekasih yang sebenar. Benarlah cinta itu buta.

Cinta kerana nafsu memang buta. Kita dikelabui oleh daya tarikan fisik sehingga tidak punya mata hati dan akal untuk mengenal siapa yang kita cintai dengan tepat dan betul. Selama tiga tahun bercinta mungkin yang kita ‘gunakan’ cuma nafsu dan emosi bukan fikiran dan hati. Al hasil, setelah tabir perkawinan mula diangkat, tabir percintaan pun berlabuh. Realiti tidak seindah ilusi. Kenyataan berbeda sungguh daripada impian.  

Masa bercinta, watak pasangan kita tidak akan terlihat. Dia boleh bermuka-muka dan rela mengikut selera, minat dan jalan hidup kita. Dan kita juga rela mengikut segala kehendaknya. Kita dan dia mabuk cinta! Namun semakin lama berumah-tangga, maka semakin ketara kelemahan dan kekurangan. Apakah dia umpama bulan yang dipuja dikejauhan oleh Sang sastrawan tetapi botak dan berlopak di mata seorang angkasawan?

Pada tahap ini, ramai yang mula menyesali diri. Mengapa dia yang ku pilih? Tanpa sedar bahwa pada masa yang sama, dia juga mungkin berbisik mengapa kita yang dipilihnya? Inilah bibit-bibit yang boleh meruntuhkan sebuah rumahtanga. Yang nekad, rela berpatah arang lalu menempuh jalan penceraian. Yang penakut, menunggu dengan resah memendam perasaan,  tanpa ada lagi keceriaan.

Manusia adalah makhluk yang sentiasa berubah. Ia punya hati yang sangat konsisten untuk berbolak-balik. Bila hati berubah, fikiran dan tingkah laku juga akan berubah. Untuk kita mengenal manusia (termasuk pasangan kita) kita terpaksa mengenali perubahan itu. Ah, ini suatu yang sangat sukar. Untuk mengenal hati sendiripun acapkali kita tidak mampu, apa pula hati orang. Sukar diduga dan ditebak.

Akibatnya, ramai orang yang berkawin dengan orang yang ‘tidak dikenalinya’. Bukan rupa lahirnya tetapi wajah batinnya. Disangka permata, rupanya kaca. Cuaca rumah tangga mula berubah. Disangka panas sampai ke petang, rupanya hujan ditengahari. Situasi inilah yang banyak berlaku dalam rumahtangga kini hingga menyebabkan perceraian!     

Apakah cara mengenal manusia yang serba kompeks ini? Bagaimana menentukan dengan pasti bahwa pasangan yang bakal kita pilih itu baik orangnya? Ya, ada tiga cara:

1. Jadi orang baik.
Maksudnya, kita sendiri coba menjadi orang yang baik, Insya-Allah kita akan dianugrahi orang yang baik sebagai pasangan hidup kita. Ini janji Allah. Menjadi orang yang baik perlu diutamakan berbanding ‘mencari’ orang yang baik. Ia lebih mudah karena menjadi orang baik bermula dengan diri sendiri.

Perlu diingat, janji mendapat pasangan yang baik bagi orang yang baik, bukan hanya berlaku pada awal perkawinan. Mungkin pada awalnya pasangan orang yang baik itu belum begitu baik namun berkat didikannya, pergaulannya dan doanya maka pasangannya  itu berubah menjadi baik selepas mereka berkawin.

Jadi, jangan putus asa sekiranya pada awal perkawinan kita lihat pasangan kita belum benar-benar baik seperti yang kita harapkan. Sebaliknya, teruskan usaha untuk menjadi orang yang baik sambil mendidik dan mendoakan pasangan kita itu. Ingat, setelah berkawin dengan kita, pasangan kita itu adalah cerminan akhlak dan keperibadian kita. Siapa mereka sebelum berkawin dengan kita kurang penting, berbanding siapa mereka setelah berkawin dengan kita.

Justru, tidak kira siapa dia sebelum berkawin dengan kita, tetapi sebagai suami atau isteri kita komitmen untuk merubah diri kita sendiri terlebih dahulu seiring usaha merubah dirinya. Jika kita tidak dapat apa yang kita suka, kita perlu suka dengan apa yang kita dapat. Caranya, ialah dengan merubah diri kita terlebih dahulu, dan insya-Allah perubahan itu akan merubah pasangan kita ke arah yang sama.

2. Ikut pilihan orang baik.
Ada orang yang menyerahkan hak membuat pilihan kepada orang-orang yang dianggapnya sangat baik dalam hidup ini. Mereka meminta ibu-bapa, ustaz-ustaz, ulama-ulama atau siapa saja yang dianggap baik untuk memilih jodoh buat mereka. Mereka pasrah dan menyerah saja. Tetapi dengan satu keyakinan: Orang yang baik pasti akan memilih orang yang baik sebagai pasangannya.
Ibu-bapa, para ulama dan orang yang baik-baik sekali-kali tidak akan menganiayai kita dengan memilih orang yang ‘jahat’ sebagai pasangan hidup kita. Kaedah ini telah dipraktikan oleh anak-anak muda zaman dahulu yakni ketika nilai-nilai agama belum dicabar oleh nilai Barat yang kononnya menyanjung hak asasi manusia dan kebebasan bersuara.

Pada pilihan orang yang baik, ada keberkatannya. Walaupun tidak ada cinta sebelum berkawin, tetapi cinta selepas berkawin jauh lebih suci dan indah. Cuba kita renungkan, betapa seringkali rumah tangga ibu-bapa yang berkahwin mengikut pilihan orang tuanya   lebih kekal dan harmoni berbanding rumah tangga anak-anaknya yang kononnya berkawin atas dasar cinta. 

Inilah kaedah yang dipraktikan oleh Zainab yang berkawin dengan lelaki yang menjadi pilihan bapanya (Rasululllah saw). Zainab setuju atas pilihan itu karena yakin akan sifat kasih sayang, amanah dan kebijaksanaan ayahnya. Dia yakin hanya orang baik (Rasulullah saw) mampu mengenal orang baik dan memilih orang baik sebagai pasangan hidup anaknya.   

Justru, sekiranya kita terlalu sukar untuk mengenali seseorang secara tepat, maka serahkan sahaja tugas itu kepada orang yang lebih arif untuk mengenalnya. Jangan cuba membuat penilaian sendiri… Bermuzakarahlah dengan orang yang baik-baik dan dirikan solat istikharah – pinta petunjuk daripada Allah setelah pilihan itu diserahkan ke tangan kita. Tidak akan kecewa orang yang bermuzakarah dan beristikharah!

3. Cintai Allah yang Maha Baik.
Kita bertekad saja  untuk mencintai Allah. Jangan pandang cinta manusia lagi. Buru cinta yang utama dan pertama (cinta Allah), insya-Allah cinta kedua, ketiga akan memburu kita. Apabila kita mencintai Allah, Allah akan mencintai kita dan bila Allah telah mencintai kita, semua orang yang mencintai Allah akan turut mencintai kita. Rasulullah saw telah bersabda:  
“Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibril pun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai dia.” Maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (Hadis Riwayat Bukhari)

Untuk mencintai Allah, kita wajib mencintai Rasulullah saw. Antara langkah-langkah mencintai Rasulullah saw itu adalah dengan banyak berselawat kepadanya, menegakkan sunahnya, menziarahi makamnya dan lain-lain lagi. Ini adalah obat yang mujarab bagi isteri yang dikecewakan suami atau suami yang dipinggirkan oleh isteri. Jangan menagih cinta makhluk sampai kita derita dan sakit hati dibuatnya. Merajuk pada yang kasih, merayu pada yang sudi.. Siapa lagi yang terus kasih dan sudi mencintai kita ketika semuanya telah berpaling kecuali Allah?

Ya, burulah cinta itu. Cinta Allah mampu mengekalkan, malah boleh meningkat lagi rasa cinta walaupun perubahan fisik berlaku, justru tapak cinta itu di hati, bukan lagi di ‘body’. Biarlah cinta pasangan kita berubah (walaupun kita terus berdoa agar tidak begitu), tetapi kita tidak akan berubah mencintai Allah.

Yakinlah jika pasangan kita juga mencintai Allah, pasti dia dan kita akan disatukan-Nya semula. Jika tidak, relakanlah perpisahan itu. Jangan bersedih, karena sesuatu yang tidak memanfaatkan pasti tidak boleh memudaratkan!

-ustad pahrol mohamad juoi-

Minggu

Bercerita Tentang Jodoh

Jodoh seperti rezeki, ia telah ditentukan. Namun, kita tidak tahu apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan berpegang pada hakikat itu kita diperintahkan-Nya agar berusahaCarilah jodoh yang baik, carilah rezeki yang baik dengan jalan yang baik juga. Siapa jodoh kita? Berapa banyak rezeki kita? Dan bila Itu bukan rezeki kita. Itu ketentuan Allah. Milik kita hanya usaha. Jadi, berusahalah dengan baik, Allah pasti tidak akan mengecewakan kita. Wajib menerima takdir tidak menolak kewajiban untuk mentadbir.
“Dulu saya tidak pernah melihat wajah bakal isteri saya,” kata seorang abang yang sangat saya hormati.
“Pelik tu bang. Bagaimana jodoh abang diaturkan?”
“Ikut pilihan guru agama yang mengajar saya,” jawabnya pendek.
“Mengapa tidak mau melihat wajahnya? Kan itu dibenarkan oleh syariat? Barangkali sebab waktu itu tidak ada ruangan sosial seperti Facebook dan Twitter?” gurau saya.
“Memang belum ada. Tetapi ada cara lain. Gambar dan cara-cara yang lain ada, tetapi sebenarnya ada sebab lain…”
Dalam diam, saya rasa heran. Saya pandangi wajahnya. Dia orang yang sangat saya hormati, kepimpinannya sangat menawan hati. Tentu ada sebab beliau bersikap demikian.
“Sebelum aktif sebagai aktivis Islam seperti sekarang, saya pernah menjalin hubungan cinta. Dia teman lama sejak di sekolah rendah lagi,” jelasnya dengan tenang.
“Habis mengapa putus?”
“Kami putus kerana dia ada jalan tersendiri. Saya ajak bersama dalam perjuangan Islam ini tetapi dia nyaman dengan gayanya. Lepas, bebas. Jadi kami berpisah setelah 10 tahun bercinta.”
Wah, ini kisah cinta yang  dramatis! Saya tidak sangka sama sekali dia yang selama ini kelihatan begitu iltizam, tegas dan berwibawa pernah melalui tragedi cinta.
-Isteri Amanah-
“Itu kisah sebelumnya. Tetapi bagaimana dengan kisah pertemuan dengan isteri abang sekarang?” kata saya beralih kepada maksud asal pertanyaan.
“Setelah putus, abang terus pinta guru agama carikan jodoh. Ingin fokus kepada gerakan dan amal Islami tanpa diganggu gugat lagi oleh emosi cinta.”
“Tetapi mengapa abang tidak mau melihat bakal isteri pilihan guru? Tidak dibenarkan?”
“Itu keputusan personal saya. Guru memberi kebebasan. Mahu melihat dulu, silakan. Tidak mahu, tidak mengapa.”
“Dan abang memilih untuk tidak melihat. Kenapa?”
“Eh, kamu masih tegar dengan soalan asal? Begini, bekas kekasih abang dulu sangat cantik. Abang takut perasaan abang diganggu oleh godaan perbandingan. Takut-takut, bakal isteri tidak secantik kekasih lama. Jadi abang tekad, nikah terus tanpa melihat wajahnya.”
Saya terkesima sebentar dan dengan pantas saya bertanya kembali, “Tetapi abang akan terpaksa juga membuat perbandingan setelah bernikah bukan? Setelah nikah, abang akan melihat wajahnya. Dan ketika itu mahu tak mahu godaan perbandingan akan datang juga.”
Sekali lagi dia senyum. Matanya bersinar-sinar dengan keyakinan. Jauh di lubuk hati, saya mengakui, dia memang bercakap dari hatinya.
“Amat jauh bedanya antara membandingkan wanita lain dengan bakal wanita yang akan kita nikahi dengan wanita yang telah kita nikahi…”
Pendek dia menjawabnya, namun terus menusuk ke hati saya. Tanpa saya pinta dia menyambung, “Apabila seorang wanita telah kita nikahi dengan sah, dialah wanita yang diamanahkan oleh Allah untuk kita bimbing dan pimpin menuju syurga. Nasib kita dunia dan akhirat sangat berkait rapat dengannya. Dia adalah jodoh yang ditakdirkan buat kita. Dialah wanita yang pasrah dan menyerah kepada kita atas nama Allah. Pada waktu itu, bagaimanapun keadaan wajahnya, siapa pun dia, sudah menjadi soal kedua.”

-Cantik Itu Relatif dan Subjektif-
“Abang tidak takut, kalau tiba-tiba wajah atau keadaannya tidak serasi dengan cita rasa abang? Maksudnya, er… er… kita masih manusia bukan?” saya menduga hatinya.
Dia ketawa tiba-tiba.
“Ya, kita masih manusia. Tetapi kita bukan sekadar manusia. Kita hamba Allah dan khalifah. Isteri ialah teman kita untuk memikul amanah dua misi berat itu. Untuk melaksanakannya, kita bukan hanya perlukan kecantikan seorang wanita, tetapi ilmunya, akhlaknya, sifat pengorbanannya dan kesetiaannya.”
“Jadi, untuk itu kecantikan tidak penting?”
“Semua yang datang daripada Allah ada kebaikannya. Namun ingat, Allah lebih tahu apa yang baik untuk kita berbanding kita sendiri. Sesiapa yang tekad menjadi hamba Allah dan khalifah, pasti tidak akan dikecewakan-Nya. Orang yang baik berhak mendapat yang baik, bukan begitu?”
“Bukan yang cantik?” jolok saya lagi.
“Cantik itu relatif dan sangat subjektif. Beauty is in the eye of the beholder, bukankah begitu? Cita rasa manusia tentang kecantikan tidak sama. Malah ia juga berubah-ubah mengikut masa, usia dan keadaan. Tetapi yang baik itu mutlak dan lebih kekal sifatnya,” balasnya dengan yakin.
“Maksud abang?”
Dia diam. Termenung sebentar. Mungkin mencari-cari bahasa kata untuk menterjermahkan bahasa rasa.
“Kecantikan seorang wanita tidak sama tafsirannya. Orang budiman dan beriman, menilai kecantikan kepada budi dan akhlak. Pemuja hedonisme dan materialisme hanya fokus kepada kecantikan wajah dan daya tarikan seksual.”
Ketika saya ingin menyampuk, dia menambah lagi, “Cantik juga relatif mengikut keadaan. Jelitawan sekalipun akan nampak hodoh dan membosankan apabila asyik marah-marah dan merampus. Sebaliknya, wanita yang sederhana sahaja wajahnya akan nampak manis apabila sentiasa tersenyum, sedia membantu dan memahami hati suami.”
“Oh, betul juga tu!” kata saya. Teringat betapa ada seorang kenalan yang sering mengeluh tentang isterinya, “Sedap di mata tetapi sakit di hati…”

-Wasilah Memilih Jodoh-
“Bagaimana sebaik selepas berkahwin? Tak terkilan?” ujar saya dengan pertanyaan nakal.
“Memang dari segi kecantikan, isteri abang sekarang biasa-biasa sahaja.”
“Maksudnya yang dulu lebih cantik?”
“Kamu ni, fikirannya masih berkisar dan berlegar-legar di situ juga. Ingat, yang biasa-biasa akan jadi luar biasa cantik apabila makin lama kita bersama dengannya. Itulah pengalaman abang. Hari ke hari, kecantikan isteri semakin terserlah. Entahlah, apa yang Allah ubah. Wajah itu atau hati ini?”
Wah, dia seakan berfalsafah! Kata-katanya punya maksud yang tersirat.
“Apa kaitannya dengan hati?” layan lagi. Ingin saya terus mencungkil mutiara hikmah daripadanya.
“Kalau hati kita indah, kita akan sentiasa melihat keindahan. Sebaliknya kalau hati rosak, keindahan tidak akan ketara, sekalipun sudah tampak di depan mata. Atau kita mungkin akan mudah bosan dengan apa yang ada lalu mula mencari lagi. Percayalah, orang yang rosak hatinya akan menjadi pemburu kecantikan yang fatamorgana!”
‘Ah, tentu dia bahagia kini!’ bisik hati saya sendiri.
“Apa panduan abang jika semua ini ingin saya tuliskan?”
“Pilihlah jodoh dengan dua cara. Pertama, jadilah orang yang baik. Insya-Allah, kita akan mendapat jodoh yang baik. Kedua, ikutlah pilihan orang yang baik. Orang yang baik akan memilih yang baik untuk jadi pasangan hidup kita.”

-Jadi Orang Baik dan Pilihan Orang Baik-
“Tapi bang, ramai yang menolak kaedah kedua. Kata mereka, mana mungkin kita menyerahkan hak kita memilih jodoh sendiri kepada ibu bapa, guru atau individu-individu lain sekalipun mereka orang yang baik-baik.”
“Tak mengapa. Kalau begitu, cuna cara pertama, jadilah orang yang baik.”
“Itu susah bang. Bukan mudah hendak menjadi orang yang baik. Ia satu proses yang panjang dan sukar menentukan apakah kita sudah jadi orang yang baik atau belum.”
Abang tersenyum lantas berkata, “Kamu menyoal bagi pihak orang lain bukan?”
Saya diam. Dalam senyap saya akui, inilah soalan yang sering diajukan oleh para remaja di luar sana.
“Kedua-dua cara itu boleh dijalankan serentak. Maksudnya, jika kita berusaha menjadi orang yang baik, insya-Allah, Allah akan kurniakan kita jodoh yang baik melalui pilihan orang baik. Ataupun kita berusaha menjadi orang yang baik sambil mencari orang yang baik sebagai jodoh, dan nanti pilihan kita itu direstui oleh orang yang baik!”
Wah, kedengaran berbelit-belit ayatnya, namun jika diamati ada kebenarannya.
“Tetapi ada juga mereka yang menolak pilihan orang yang baik bukan?”
“Kerana mereka bukan orang baik,” jawabnya pendek.
“Bukan, bukan begitu. Bolehkah terjadi orang baik menolak pilihan orang yang baik?”
“Ya, tidak mengapa. Tetapi mereka tetap menolaknya dengan cara yang baik. Itulah yang terjadi kepada seorang wanita yang bertanyakan haknya untuk menerima atau menolak jodoh yang dipilih oleh ibu bapanya kepada Rasulullah s.a.w.”
“Apa hikmah di sebalik kisah itu bang?”
“Kita boleh melihat persoalan ini dari dua dimensi. Pertama, mungkin ada anak-anak yang tidak baik menolak pilihan ibu bapa yang baik. Hikmahnya, Allah tidak mengizinkan orang yang baik menjadi pasangan orang yang tidak baik. Bukankah Allah telah berjanji, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan begitulah sebaliknya?”
Saya terdiam. Benar-benar tenggelam dalam fikiran yang mendalam dengan luahan hikmah itu.

-Jodoh Urusan Allah-
“Dan mungkin juga anak itu orang baik tetapi ibu bapanya yang tidak baik itu memilih calon yang tidak baik sebagai pasangannya. Maka pada waktu itu syariat membenarkan si anak menolak pilihan ibu bapanya. Ya, itulah kaedah Allah untuk menyelamatkan orang baik daripada mendapat pasangan hidup yang jahat.”
“Bagaimana pula jika anak itu baik, dan ibu bapanya pun baik serta calon pilihan ibu bapanya juga baik, tetapi urusan pernikahan masih terbengkalai. Apa maknanya?” tanya saya inginkan penjelasan muktamad.
“Itulah takdir! Mungkin Allah menentukan ‘orang baik’ lain sebagai jodohnya. Sementara orang baik yang dicadangkan itu telah Allah tentukan dengan orang baik yang lain pula!”
Tiba-tiba saya teringat bagaimana Hafsah yang dicadangkan untuk menjadi calon isteri Sayidina Abu Bakar oleh ayahnya Sayidina Umar tetapi ditolak. Akhir Hafsah bernikah dengan Rasulullah s.a.w. Kebaikan sentiasa berlegar-legar dalam kalangan orang yang baik!
“Jodoh itu urusan Allah. Sudah dicatat sejak azali lagi. Tetapi prinsipnya tetap satu dan satu itulah yang wajib kita fahami. Orang yang baik berhak mendapat jodoh yang baik. Cuma sekali-sekala sahaja Allah menguji orang yang baik mendapat pasangan hidup yang jahat seperti Nabi Lut mendapat isteri yang jahat dan Asiyah yang bersuamikan Firaun laknatullah.”
“Apa hikmahnya kes yang berlaku sekali-sekala seperti itu?”
“Eh, abang bukan pakar hikmah! Tetapi mungkin Allah hendak meninggikan lagi darjah dan darjat orang baik ke tahap yang lebih tinggi.”
“Hikmah untuk kita?”
“Jika takdirnya pahit untuk kita, terimalah sebagai ubat. Katalah, kita sudah berusaha menjadi orang yang baik dan kita telah pun bernikah dengan pilihan orang yang baik, tetapi jika takdirnya  pasangan kita bermasalah… bersabarlah. Katakan pada diri bahawa itulah jalan yang ditentukan oleh Allah untuk kita mendapat syurga. Maka rebutlah pahala sabar dan redha seperti Nabi Lut dan Nabi Ayyub atau kesabaran seorang isteri bernama Siti Asiah.”
Tok, tok, tok. Tiba-tiba pintu bilik tulis saya diketuk. Wajah watak “abang bayangan” saya pergi tiba-tiba. Tersedar saya daripada lamunan yang panjang. Wajah isteri terserlah di sebalik pintu. Sebalik melihatnya terdetak dalam hati sendiri, apakah aku telah menjadi insan yang baik untuk memperbaikinya?
Ah, hati dilanda bimbang mengingatkan makna satu ungkapan yang pernah saya tulis dahulu: “Yang penting bukan siapa isterimu semasa kau nikahinya, tetapi siapa dia setelah menikah denganmu. JAdi, janji Allah tentang lelaki yang baik untuk wanita yang baik bukan hanya berlaku pada awal pernikahan, tetapi di pertengahannya, penghujungnya malah sepanjang jalan menuju syurga!”

-Nota hati-
Pulang dari Kelantan hujung minggu lalu dengan badan yang sarat dengan keletihan. Namun hati dan fikiran sarat dengan iktibar dan pengajaran.
Berlegar di sekitar kuliah Hari Jumaat di bandar KB, mendengar. merasa dan melihat. Yang indah, bukan tanahnya, tetapi manusia yang menegakkan hukum Allah di atasnya.
Mungkin sesuatu yang kelihatan sederhana pada pandangan mata, tetapi sangat cantik bila dipandang dengan mata hati. Begitulah rasa hati… semoga kita semua kembali kepada Ilahi, kerana di sana ada keindahan yang hakiki dan abadi.
Berfikir tentang jodoh anak-anak, adalah satu cabaran yang dipenuhi pelbagai misteri. Ia sukar ditebak dan diduga. Namun, pesan saya cuma satu… untuk anak sendiri dan anak-anak di luar sana, ikutlah syariat, pasti selamat. Islam itu sejahtera. Tidak ada kebahagiaan tanpanya.
Ya, kesalahan dan kesilapan boleh berlaku –  ada ampun, maaf dan taubat di situ. Namun mukmin sebenar tidak akan jatuh dalam lubang yang sama dua kali. Cukup hanya sekali… pertama, kerana kejahilan. Maka belajarlah. Kalau kedua, itu kerana kedegilan. Hubaya-hubaya, kekadang harga yang ditagih untuk ‘membetulkannya’ terlalu pedih dan menyakitkan.

Belajarlah melakukan yang benar dan betul buat pertama kali. Itu yang terbaik. Tetapi jika tidak, cubalah membetulkannya buat kali kedua, ketiga dan seterusnya. Jangan jemu untuk cuba melakukan yang terbaik, kerana kata bijak pandai: Kebaikan itu perlu dimulakan berkali-kali!

-ustad pahrol mohamad juoi-
Copyright © EnnLaw | Floating Leaves template designed by ennyLaw | eLaw's Design