Percayalah, terkadang manusia hanya inginkan ‘didengar’. Karena dengan didengar,
manusia merasa dihargai, disayangi dan dihormati. Jika ingin dicintai, cukuplah
dengan menjadi pendengar. Tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya dengar…
Saya sendiri melakukan berbagai kesalahan dan kekhilafan dalam hidup
akibat tidak mendengar. Saya kira, dengan berkata-kata bisa meraih kemesraan. Rupanya tidak. Diri ini akan lebih dicintai, jika menjadi pendengar.
Orang pasti pernah mendengar di
radio, di tv dsb, apabila
masyarakat menghubungi pakar motivasi, ulama, ustadzah dan pendakwah. Acapkali mereka bukan
meluahkan masalah. Mereka hanya bercerita
mengobrol… mengapa? Ya, mereka hanya ingin didengar.
Alangkah indahnya jika punya waktu dan sedia meluangkannya untuk menjadi
pendengar. Kehausan untuk didengar ialah pertanda kehausan kasih sayang dan cinta. Manusia mencari siapa yang sudi
menjadi pendengar untuk diluahkan segala dan semua yang dirasa. Sekali lagi,
bukan inginkan penyelesaian tetapi hanya inginkan penghargaan dan kasih sayang: dengar...
Bertekad
untuk menjadi pendengar. Ketapkan mulut dan bukakan hati dan telinga untuk
mendengar. InsyaAllah, kasih sayang akan bertaut dan berbunga kembali. Jangan
biarkan isteri, suami, anak, saudara,
teman menanti nanti. Memulai dengan tugas cinta yang
pertama: Just listen, hanya dengan mendengar…
-HANYA DENGAN MENDENGAR-
Manusia ingin didengar, sama dengan manusia butuh makan dan minum. Tanpa makan dan minum akan lemahlah jasad, sakitlah badan. Tanpa didengar akan tumpullah
perasaan dan lumpuhlah emosi. Manusia yang membesar tanpa diberi hak didengar
akan menjadi manusia yang kurang cerdas emosinya apabila dewasa kelak. Dia akan
gagal mengurus perasaan marah, kecewa, takut dan dendamnya. Orang yang begini,
akan gagal dalam hidupnya.
Pentingnya
didengar dalam hidup seseorang itu hingga menyebabkan Pepatah pandai mengungkapkannya
melalui kata-kata hikmah yang berbunyi: “Tugas cinta yang pertama ialah mendengar.”
Artinya,
kekasih yang baik ialah kekasih yang mendengar rintihan, keluhan, aduan dan
rayuan pasangannya. Justru, dengan mendengar cinta akan lebih subur dan harum.
Orang yang banyak mendengar akan banyak
belajar dalam hidup ini. Orang yang banyak mendengar bukan saja banyak
pengetahuan tetapi akan banyak kawan dalam masyarakat. Mungkin karena itu Allah ciptakan diri dengan dua telinga
dan satu mulut sebagai simbolik, kurangkan berkata-kata tetapi banyakkan
mendengar. Malangnya, kebanyakan manusia lebih suka “memperdengarkan dan berbicara” daripada
mendengar orang lain.
Lidah selalu menyebabkan telinga menjadi tuli.
Dalam pergaulan, selalu saja ingin memonopoli perbualan. Katanya dengan banyak berbicara diri akan terlihat pandai dan bijak berbanding orang
yang diam. Kebanyakan diri menyangka orang yang diam itu bodoh. Tidak ada ide dan pendek wawasan.
Sedangkan diam itulah terpuji dan bermanfaat. Kata Pepatah pandai: “Diam itu banyak
hikmahnya tetapi sangat sedikit sekali orang mengambil manfaatnya.”
Mencoba lihat orang di sekeliling dan lihat diri sendiri. Apakah diri ini banyak mendengar
daripada berkata-kata? Maaf, kerap kali diri ingin jadi jagoan yang
tidak henti-henti berkokok di mana-mana. Bila berbicara diri seolah-olah serba tahu. Mengetuai perbualan, menjuarai percakapan. Mengapa?
Ya, sering terjadi pangkat, harta, nama serta jabatan menyebabkan
seseorang tidak sudi lagi menjadi pendengar. “Pangkat ku lebih tinggi, aku bicara kau dengar. Nama ku
lebih tersohor, jangan coba-coba
mencelah bila aku berbicara. Kau tak layak menasihati aku, ilmu ku lebih tinggi.
Begitulah yang kerap diri lihat dalam kehidupan”. Bukan orang lain
pelakunya tetapi diri ini sendiri..
Apakah dengan mendengar diri menjadi hina, miskin
dan tidak ternama? Jika itulah anggapan jelas sudah salah. Menjadi pendengar menjadikan diri orang yang tawadhu (rendah hati). Orang yang tawadhu akan ditinggikan Allah.
Orang yang mendengar akan lebih banyak belajar daripada orang yang asyik
berkata-kata.
Semakin banyak belajar semakin banyak ilmu
yang diperoleh.
Dan bila semakin banyak ilmu yang
dimiliki, maka semakin tinggilah darajat diri di sisi Allah dan
manusia. Dalam
Al Quran Allah telah menegaskan bahwa darajat ahli ilmu itu ditinggikan oleh-Nya berbanding
orang yang tidak berilmu..
Justru, Allah yang Maha Pencipta juga bersifat
Maha Mendengar “sami”. Dan salah satu
nama Allah yang baik dan indah ialah as Sami’. Allah maha mendengar rintihan,
aduan, kebimbangan, luahan rasa dari hamba-hambanya pada setiap waktu, tempat dan ketika.
Allah adalah “kekasih” setia yang sentiasa mau mendengar rintihan
hamba-hamba-Nya. Jika kekasih di kalangan manusia akan jemu jika masalah yang
sama diceritakan berulang-ulang kali sebaliknya Allah tidak sebegitu. Allah bersedia selalu mendengarnya.
Jika ada jutaan manusia mengadu dan merintih
kepada Allah, Allah tetap mendengar semua rintihan itu dengan terang dan jelas.
Sedangkan seorang ulama, pengacara, hakim dsb yang terbaik sekalipun
tidak mampu mendengar dua, tiga masalah dari klien yang berbeda pada suatu waktu dalam keadaan
serentak. Inilah kehebatan Allah sebagai
As Sami’. Bukan saja Allah mau mendengar bahkan mampu mendengar seluruh pengaduan
hamba-Nya pada satu waktu!
Allah mulia dan agung karena kesediaan-Nya mendengar
rintihan dan pengaduan manusia. Begitu juga jika ada manusia yang mau mendengar
rintihan dan pengaduan manusia lain… dia juga akan ditinggikan darajatnya. Allah mau mendengar rintihan
semua manusia tanpa melihat pangkat, derajat, harta dan rupa paras. Allah mendengar permintaan seorang raja,
Allah juga mendengar rintihan seorang hamba. Allah Maha Adil…
Seorang yang sakit, datang merintih karena penyakitnya… Allah
mendengar. Seorang menteri mengadu hal-hal negara… Allah mendengar. Seorang
isteri mengadu hal rumah tangga… Allah mendengar. Apa pun dan dari siapapun Allah
tetap mendengar. Mintalah hal sekecil-kecilnya dan Mintalah hal yang sebesar-besarnya, Allah tetap mendengarnya. Dari rintihan seorang pengemis
yang merayu untuk mendapatkan sesuap nasi, sampai seorang yang soleh yang memohon syurga, Allah tetap mau mendengar, justru
Allah itu bukan saja mendengar tetapi Dia Maha mendengar!
Sebaliknya, manusia terlalu ego dan bersikap
berat sebelah termasuk dalam soal mendengar ini. Ya, jika orang yang berbicara tinggi pangkatnya,
maka dia akan siap senyap terpaku membisu
untuk mendengarkan. Tetapi jika yang bersuara itu orang
bawahan, maka dia mendengar dengan
cepat-cepat memotong pembicaraan sebelum orang bawahannya itu dapat
menghabiskan percakapannya. Kalau sikaya menegur, semua tunduk patuh. Tetapi bila
si miskin yang mengadu, banyak yang berpaling dan menunjukkan reaksi tak suka.
Namun tidak begitu keadaannya pada insan
bernama Muhammad saw. Baginda seorang yang sentiasa memberi hak mendengar
kepada sahabat, istri dan pengikut-pengikutnya. Walaupun, baginda “orang besar”
yang memimpin negara, tetapi masih sempat mendengar rintihan anak kecil yang
terbiarkan di
tepi jalan. Di dalam musyawarah, baginda sering mendengar pendapat sahabat-sahabatnya. Terkadang baginda ada usulan, tetapi yang dirasakannya ada usulan lain yang lebih
tepat, maka
diambilnya usulan yang lebih tepat itu!
Itulah Rasulullah saw yang paling berjaya
meniru sifat As Sami’ Allah swt. Bagaimana dengan diri ini? Ah, malang,terkadang pangkat tidaklah
setinggi mana, namun egonya sudah setinggi langit. kononnya dirilah yang paling bijak dan mulia. Jika dalam satu majelis diri tidak dialu-alukan
dengan kata-kata sambutan, maka merasa dipinggirkan. Jika dalam musyawarah kita tidak diperslihkan berbicara, terasa orang menafikan dan tidak menganggap keintelektualan,
gelaran dan jabatan diri.
Orang tidak perlu banyak cakap untuk disenangi dan disayangi, cukup dengan
menjadi pendengar. Lihat mata orang yang berbicara, buka telinga dan hati, dengarlah dengan
penuh simpati dan empati, niscaya
orang akan jatuh hati. Bila anak-anak menghampiri, pegang tangannya dan
ucapkan, apa yang kamu ingin katakan? Ayah atau ibu sedia mendengarnya. Jika pekerja
bawahan datang di muka pintu rumah lalu memberi salam, jawab salamnya dan ajak dia mendekat dan dengar luahan
katanya.
Dengarlah bisikan orang di sekeliling diri ini. Insya-Allah, diritidak akan terpaksa
mendengar jeritan. Berapa banyak bisikan yang dibiarkan yang akhirnya bertukar
menjadi jeritan yang memeritkan. Isteri ingin mengadu, suami menjauh. Anak
hendak berbicara, ibu-bapa membentak menyuruh diam. Pekerja ingin berbincang, dituduh
ingin mogok. Rakyat ingin memberitahu, kononnya pemimpin serba tahu..
Terlalu banyak bisikan yang dipinggirkan dan
disisihkan. Akhirnya, bisikan menjadi jeritan. Anak derhaka, isteri nusyuz,
diceraikan suami, pekerja lari, rakyat berpaling. Semuanya gara-gara dan angkara sikap tidak ingin mendengar.
0 komentar:
Posting Komentar