Sabtu

Just Listen (Hanya Dengan Mendengar!)

Percayalah, terkadang manusia hanya inginkan ‘didengar’. Karena dengan didengar, manusia merasa dihargai, disayangi dan dihormati. Jika ingin dicintai, cukuplah dengan menjadi pendengar. Tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya dengar…

Saya sendiri melakukan berbagai kesalahan dan kekhilafan dalam hidup akibat tidak mendengar. Saya kira, dengan berkata-kata bisa meraih kemesraan. Rupanya tidak. Diri ini akan lebih dicintai, jika menjadi pendengar.

Orang pasti pernah mendengar di  radio, di tv  dsb, apabila masyarakat menghubungi pakar motivasi, ulama, ustadzah dan pendakwah. Acapkali mereka bukan meluahkan masalah. Mereka hanya bercerita mengobrol… mengapa? Ya, mereka hanya ingin didengar.

Alangkah indahnya jika punya waktu dan sedia meluangkannya untuk menjadi pendengar. Kehausan untuk didengar ialah pertanda kehausan kasih sayang dan cinta. Manusia mencari siapa yang sudi menjadi pendengar untuk diluahkan segala dan semua yang dirasa. Sekali lagi, bukan inginkan penyelesaian tetapi hanya inginkan penghargaan dan kasih sayang: dengar...

Bertekad untuk menjadi pendengar. Ketapkan mulut dan bukakan hati dan telinga untuk mendengar. InsyaAllah, kasih sayang akan bertaut dan berbunga kembali. Jangan biarkan isteri, suami, anak, saudara, teman menanti nanti. Memulai dengan tugas cinta yang pertama: Just listen, hanya dengan mendengar…


-HANYA DENGAN  MENDENGAR-

Manusia ingin didengar, sama dengan manusia butuh makan dan minum. Tanpa makan dan minum akan lemahlah jasad, sakitlah badan. Tanpa didengar akan tumpullah perasaan dan lumpuhlah emosi. Manusia yang membesar tanpa diberi hak didengar akan menjadi manusia yang kurang cerdas emosinya apabila dewasa kelak. Dia akan gagal mengurus perasaan marah, kecewa, takut dan dendamnya. Orang yang begini, akan gagal dalam hidupnya.

Pentingnya didengar dalam hidup seseorang itu hingga menyebabkan Pepatah pandai mengungkapkannya melalui kata-kata hikmah yang berbunyi: “Tugas cinta yang pertama ialah mendengar.”

Artinya, kekasih yang baik ialah kekasih yang mendengar rintihan, keluhan, aduan dan rayuan pasangannya. Justru, dengan mendengar cinta akan lebih subur dan harum.

Orang yang banyak mendengar akan banyak belajar dalam hidup ini. Orang yang banyak mendengar bukan saja banyak pengetahuan tetapi akan banyak kawan dalam masyarakat. Mungkin karena itu Allah ciptakan diri dengan dua telinga dan satu mulut sebagai simbolik, kurangkan berkata-kata tetapi banyakkan mendengar. Malangnya, kebanyakan manusia lebih suka “memperdengarkan dan berbicara” daripada mendengar  orang lain.

Lidah selalu menyebabkan telinga menjadi tuli. Dalam pergaulan, selalu saja ingin memonopoli perbualan. Katanya dengan banyak berbicara diri akan terlihat pandai dan bijak berbanding orang yang diam. Kebanyakan diri menyangka orang yang diam itu bodoh. Tidak ada ide dan pendek wawasan. Sedangkan diam itulah terpuji dan bermanfaat. Kata Pepatah pandai: “Diam itu banyak hikmahnya tetapi sangat sedikit sekali orang mengambil manfaatnya.”

Mencoba lihat orang di sekeliling  dan lihat diri sendiri. Apakah diri ini banyak mendengar daripada berkata-kata? Maaf, kerap kali diri ingin jadi  jagoan yang tidak henti-henti berkokok di mana-mana. Bila berbicara diri seolah-olah serba tahu. Mengetuai perbualan, menjuarai percakapan. Mengapa?

Ya, sering terjadi pangkat, harta, nama serta jabatan menyebabkan seseorang tidak sudi lagi menjadi pendengar. Pangkat ku lebih tinggi, aku bicara kau dengar. Nama ku lebih tersohor, jangan coba-coba mencelah bila aku berbicara. Kau tak layak menasihati aku, ilmu ku lebih tinggi. Begitulah yang kerap diri lihat dalam kehidupan. Bukan orang lain pelakunya tetapi diri ini sendiri..

Apakah dengan mendengar diri menjadi hina, miskin dan tidak ternama? Jika itulah anggapan jelas sudah salah. Menjadi pendengar menjadikan diri orang yang tawadhu (rendah hati). Orang yang tawadhu akan ditinggikan Allah. Orang yang mendengar akan lebih banyak belajar daripada orang yang asyik berkata-kata.

Semakin banyak belajar semakin banyak ilmu yang diperoleh. Dan bila semakin banyak ilmu yang dimiliki, maka semakin tinggilah darajat diri di sisi Allah dan manusia. Dalam Al Quran Allah telah menegaskan bahwa darajat ahli ilmu itu ditinggikan oleh-Nya berbanding orang yang tidak berilmu..

Justru, Allah yang Maha Pencipta juga bersifat Maha Mendengar  “sami”. Dan salah satu nama Allah yang baik dan indah ialah as Sami’. Allah maha mendengar rintihan, aduan, kebimbangan, luahan rasa dari hamba-hambanya pada setiap waktu, tempat dan ketika. Allah adalah “kekasih” setia yang sentiasa mau mendengar rintihan hamba-hamba-Nya. Jika kekasih di kalangan manusia akan jemu jika masalah yang sama diceritakan berulang-ulang kali sebaliknya Allah tidak sebegitu. Allah bersedia selalu mendengarnya.

Jika ada jutaan manusia mengadu dan merintih kepada Allah, Allah tetap mendengar semua rintihan itu dengan terang dan jelas. Sedangkan seorang  ulama, pengacara, hakim dsb yang terbaik sekalipun tidak mampu mendengar dua, tiga masalah dari klien yang berbeda pada suatu waktu dalam keadaan serentak.  Inilah kehebatan Allah sebagai As Sami’. Bukan saja Allah mau mendengar bahkan mampu mendengar seluruh pengaduan hamba-Nya pada satu waktu!

Allah mulia dan agung karena kesediaan-Nya mendengar rintihan dan pengaduan manusia. Begitu juga jika ada manusia yang mau mendengar rintihan dan pengaduan manusia lain… dia juga akan ditinggikan darajatnya. Allah mau mendengar rintihan semua manusia tanpa melihat pangkat, derajat, harta dan rupa paras. Allah mendengar permintaan seorang raja, Allah juga mendengar rintihan seorang hamba. Allah Maha Adil…

Seorang yang sakit, datang merintih karena penyakitnya… Allah mendengar. Seorang menteri mengadu hal-hal negara… Allah mendengar. Seorang isteri mengadu hal rumah tangga… Allah mendengar. Apa pun dan dari siapapun Allah tetap mendengar. Mintalah hal sekecil-kecilnya dan Mintalah hal yang sebesar-besarnya, Allah tetap  mendengarnya. Dari rintihan seorang pengemis yang merayu untuk mendapatkan sesuap nasi, sampai seorang yang soleh yang memohon syurga, Allah tetap mau mendengar, justru Allah itu bukan saja mendengar tetapi Dia Maha mendengar!

Sebaliknya, manusia terlalu ego dan bersikap berat sebelah termasuk dalam soal mendengar ini. Ya, jika orang yang berbicara tinggi pangkatnya, maka dia akan siap senyap terpaku membisu untuk mendengarkan. Tetapi jika yang bersuara itu orang bawahan, maka dia mendengar dengan cepat-cepat memotong pembicaraan sebelum orang bawahannya itu dapat menghabiskan percakapannya. Kalau sikaya menegur, semua tunduk patuh. Tetapi bila si miskin yang mengadu, banyak yang berpaling dan menunjukkan reaksi tak suka.

Namun tidak begitu keadaannya pada insan bernama Muhammad saw. Baginda seorang yang sentiasa memberi hak mendengar kepada sahabat, istri dan pengikut-pengikutnya. Walaupun, baginda “orang besar” yang memimpin negara, tetapi masih sempat mendengar rintihan anak kecil yang terbiarkan di tepi jalan. Di dalam musyawarah, baginda sering mendengar pendapat sahabat-sahabatnya. Terkadang baginda ada usulan, tetapi yang dirasakannya ada usulan lain yang lebih tepat, maka diambilnya usulan yang lebih tepat itu!

Itulah Rasulullah saw yang paling berjaya meniru sifat As Sami’ Allah swt. Bagaimana dengan diri ini? Ah, malang,terkadang pangkat tidaklah setinggi mana, namun egonya sudah setinggi langit. kononnya dirilah yang paling bijak dan mulia. Jika dalam satu majelis diri tidak dialu-alukan dengan kata-kata sambutan, maka merasa dipinggirkan. Jika dalam musyawarah kita tidak diperslihkan berbicara, terasa orang menafikan dan tidak menganggap keintelektualan, gelaran dan jabatan diri.

Orang tidak perlu banyak cakap untuk disenangi dan disayangi, cukup dengan menjadi pendengar. Lihat mata orang yang berbicara, buka telinga dan hati, dengarlah dengan penuh simpati dan empati, niscaya orang akan jatuh hati. Bila anak-anak menghampiri, pegang tangannya dan ucapkan, apa yang kamu ingin katakan? Ayah atau ibu sedia mendengarnya. Jika pekerja bawahan datang di muka pintu rumah lalu memberi salam, jawab salamnya dan ajak dia mendekat dan dengar luahan katanya.

Dengarlah bisikan orang di sekeliling diri ini. Insya-Allah, diritidak akan terpaksa mendengar jeritan. Berapa banyak bisikan yang dibiarkan yang akhirnya bertukar menjadi jeritan yang memeritkan. Isteri ingin mengadu, suami menjauh. Anak hendak berbicara, ibu-bapa membentak menyuruh diam. Pekerja ingin berbincang, dituduh ingin mogok. Rakyat ingin memberitahu, kononnya pemimpin serba tahu..


Terlalu banyak bisikan yang dipinggirkan dan disisihkan. Akhirnya, bisikan menjadi jeritan. Anak derhaka, isteri nusyuz, diceraikan suami, pekerja lari, rakyat berpaling. Semuanya gara-gara dan angkara sikap tidak ingin mendengar.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © EnnLaw | Floating Leaves template designed by ennyLaw | eLaw's Design