Rabu

Relakan Perpisahan Itu Karena Allah

Kadangkala aku sendiri kebingungan. Bila ditusuk soalan demi soalan. Bagi yang telah merasa cinta, bagi yang belum merasanya. Cinta tidak habis-habis diperkatakan, walaupun telah berkali-kali aku pesankan bahwa cinta itu bukan Tuhan!

Dulu aku pernah mengingatkan diri sendiri, dipercayai lebih utama daripada dicintai. Namun, mengapa hati masih tidak mau percaya? terkadang, jalan berapi ditempuh jua.  Ah, bujukan nafsu terlalu. Sudah terantuk baru terngadah. Sudah berdarah, baru berubah.

Pada remaja yang terus bertanya.. Pada ‘retua’ yang terus meminta.. satu kepastian, satu panduan.. terus-terang kukatakan aku sendiripun terus bertanya dan terus meminta. Tidak mungkin aku memberikan apa yang aku tidak punya! Tetapi itu bukan alasan untuk menyerah. Mencari dan terus mencari, itulah yang lebih berharga. rasa belum memiliki adalah modal terpenting untuk memiliki cinta.. ya, cinta Allah.

Itulah cinta pertama dan cinta utama. Walaupun sudah berkali-kali kalimah itu disebutkan, tetapi yang mendengar cuma telinga dan akal, bukan jiwa dan hati. Hati masih tuli, Jiwa masih alpa. Bila dia berani berkata dan merasa, cinta yang dicari lebih baik daripada cinta yang ditemui!


-Kiranya berhenti sejenak dalam kelelahan bercinta. Mari kita istirahatkan hati dengan Relakanlah perpisahan itu karena Allah-

Pernahkah kita terasa tiba-tiba saja seolah-olah tidak mengenali pasangan kita? Mengapa dia menjadi “manusia lain”? Seakan-akan kita belum pernah mengenalinya walaupun telah berumahtangga sekian lama. Jika kita pernah mengalami perasaan itu, jangan terkejut. Ia adalah perkara biasa. Bukan sesuatu yang luar biasa.

Itu semua gara-gara warna sebenarnya (true colours) pasangan kita mula terserah. Satu demi satu wataknya yang tersirat mula tersurat. Mengikut kajian pakar perkawinan, hanya setelah usia lima tahun perkawinan, barulah masing-masing (suami dan isteri) mengeluarkan semua sikap dan perangai mereka yang tersembunyi.

Pernah kita dengar  bagaimana keluhan seorang isteri tentang  suaminya. Katanya, “setelah tiga bulan perkawinan barulah saya sadar bahwa suami saya sebenarnya seorang yang pemarah.” Ironinya, mungkin pasangan itu telah bercinta (berpacaran) tiga tahun sebelum mereka menikah. Bayangkan, tiga tahun bercinta tanpa mengenal diri kekasih yang sebenar. Benarlah cinta itu buta.

Cinta kerana nafsu memang buta. Kita dikelabui oleh daya tarikan fisik sehingga tidak punya mata hati dan akal untuk mengenal siapa yang kita cintai dengan tepat dan betul. Selama tiga tahun bercinta mungkin yang kita ‘gunakan’ cuma nafsu dan emosi bukan fikiran dan hati. Al hasil, setelah tabir perkawinan mula diangkat, tabir percintaan pun berlabuh. Realiti tidak seindah ilusi. Kenyataan berbeda sungguh daripada impian.  

Masa bercinta, watak pasangan kita tidak akan terlihat. Dia boleh bermuka-muka dan rela mengikut selera, minat dan jalan hidup kita. Dan kita juga rela mengikut segala kehendaknya. Kita dan dia mabuk cinta! Namun semakin lama berumah-tangga, maka semakin ketara kelemahan dan kekurangan. Apakah dia umpama bulan yang dipuja dikejauhan oleh Sang sastrawan tetapi botak dan berlopak di mata seorang angkasawan?

Pada tahap ini, ramai yang mula menyesali diri. Mengapa dia yang ku pilih? Tanpa sedar bahwa pada masa yang sama, dia juga mungkin berbisik mengapa kita yang dipilihnya? Inilah bibit-bibit yang boleh meruntuhkan sebuah rumahtanga. Yang nekad, rela berpatah arang lalu menempuh jalan penceraian. Yang penakut, menunggu dengan resah memendam perasaan,  tanpa ada lagi keceriaan.

Manusia adalah makhluk yang sentiasa berubah. Ia punya hati yang sangat konsisten untuk berbolak-balik. Bila hati berubah, fikiran dan tingkah laku juga akan berubah. Untuk kita mengenal manusia (termasuk pasangan kita) kita terpaksa mengenali perubahan itu. Ah, ini suatu yang sangat sukar. Untuk mengenal hati sendiripun acapkali kita tidak mampu, apa pula hati orang. Sukar diduga dan ditebak.

Akibatnya, ramai orang yang berkawin dengan orang yang ‘tidak dikenalinya’. Bukan rupa lahirnya tetapi wajah batinnya. Disangka permata, rupanya kaca. Cuaca rumah tangga mula berubah. Disangka panas sampai ke petang, rupanya hujan ditengahari. Situasi inilah yang banyak berlaku dalam rumahtangga kini hingga menyebabkan perceraian!     

Apakah cara mengenal manusia yang serba kompeks ini? Bagaimana menentukan dengan pasti bahwa pasangan yang bakal kita pilih itu baik orangnya? Ya, ada tiga cara:

1. Jadi orang baik.
Maksudnya, kita sendiri coba menjadi orang yang baik, Insya-Allah kita akan dianugrahi orang yang baik sebagai pasangan hidup kita. Ini janji Allah. Menjadi orang yang baik perlu diutamakan berbanding ‘mencari’ orang yang baik. Ia lebih mudah karena menjadi orang baik bermula dengan diri sendiri.

Perlu diingat, janji mendapat pasangan yang baik bagi orang yang baik, bukan hanya berlaku pada awal perkawinan. Mungkin pada awalnya pasangan orang yang baik itu belum begitu baik namun berkat didikannya, pergaulannya dan doanya maka pasangannya  itu berubah menjadi baik selepas mereka berkawin.

Jadi, jangan putus asa sekiranya pada awal perkawinan kita lihat pasangan kita belum benar-benar baik seperti yang kita harapkan. Sebaliknya, teruskan usaha untuk menjadi orang yang baik sambil mendidik dan mendoakan pasangan kita itu. Ingat, setelah berkawin dengan kita, pasangan kita itu adalah cerminan akhlak dan keperibadian kita. Siapa mereka sebelum berkawin dengan kita kurang penting, berbanding siapa mereka setelah berkawin dengan kita.

Justru, tidak kira siapa dia sebelum berkawin dengan kita, tetapi sebagai suami atau isteri kita komitmen untuk merubah diri kita sendiri terlebih dahulu seiring usaha merubah dirinya. Jika kita tidak dapat apa yang kita suka, kita perlu suka dengan apa yang kita dapat. Caranya, ialah dengan merubah diri kita terlebih dahulu, dan insya-Allah perubahan itu akan merubah pasangan kita ke arah yang sama.

2. Ikut pilihan orang baik.
Ada orang yang menyerahkan hak membuat pilihan kepada orang-orang yang dianggapnya sangat baik dalam hidup ini. Mereka meminta ibu-bapa, ustaz-ustaz, ulama-ulama atau siapa saja yang dianggap baik untuk memilih jodoh buat mereka. Mereka pasrah dan menyerah saja. Tetapi dengan satu keyakinan: Orang yang baik pasti akan memilih orang yang baik sebagai pasangannya.
Ibu-bapa, para ulama dan orang yang baik-baik sekali-kali tidak akan menganiayai kita dengan memilih orang yang ‘jahat’ sebagai pasangan hidup kita. Kaedah ini telah dipraktikan oleh anak-anak muda zaman dahulu yakni ketika nilai-nilai agama belum dicabar oleh nilai Barat yang kononnya menyanjung hak asasi manusia dan kebebasan bersuara.

Pada pilihan orang yang baik, ada keberkatannya. Walaupun tidak ada cinta sebelum berkawin, tetapi cinta selepas berkawin jauh lebih suci dan indah. Cuba kita renungkan, betapa seringkali rumah tangga ibu-bapa yang berkahwin mengikut pilihan orang tuanya   lebih kekal dan harmoni berbanding rumah tangga anak-anaknya yang kononnya berkawin atas dasar cinta. 

Inilah kaedah yang dipraktikan oleh Zainab yang berkawin dengan lelaki yang menjadi pilihan bapanya (Rasululllah saw). Zainab setuju atas pilihan itu karena yakin akan sifat kasih sayang, amanah dan kebijaksanaan ayahnya. Dia yakin hanya orang baik (Rasulullah saw) mampu mengenal orang baik dan memilih orang baik sebagai pasangan hidup anaknya.   

Justru, sekiranya kita terlalu sukar untuk mengenali seseorang secara tepat, maka serahkan sahaja tugas itu kepada orang yang lebih arif untuk mengenalnya. Jangan cuba membuat penilaian sendiri… Bermuzakarahlah dengan orang yang baik-baik dan dirikan solat istikharah – pinta petunjuk daripada Allah setelah pilihan itu diserahkan ke tangan kita. Tidak akan kecewa orang yang bermuzakarah dan beristikharah!

3. Cintai Allah yang Maha Baik.
Kita bertekad saja  untuk mencintai Allah. Jangan pandang cinta manusia lagi. Buru cinta yang utama dan pertama (cinta Allah), insya-Allah cinta kedua, ketiga akan memburu kita. Apabila kita mencintai Allah, Allah akan mencintai kita dan bila Allah telah mencintai kita, semua orang yang mencintai Allah akan turut mencintai kita. Rasulullah saw telah bersabda:  
“Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibril pun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai dia.” Maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (Hadis Riwayat Bukhari)

Untuk mencintai Allah, kita wajib mencintai Rasulullah saw. Antara langkah-langkah mencintai Rasulullah saw itu adalah dengan banyak berselawat kepadanya, menegakkan sunahnya, menziarahi makamnya dan lain-lain lagi. Ini adalah obat yang mujarab bagi isteri yang dikecewakan suami atau suami yang dipinggirkan oleh isteri. Jangan menagih cinta makhluk sampai kita derita dan sakit hati dibuatnya. Merajuk pada yang kasih, merayu pada yang sudi.. Siapa lagi yang terus kasih dan sudi mencintai kita ketika semuanya telah berpaling kecuali Allah?

Ya, burulah cinta itu. Cinta Allah mampu mengekalkan, malah boleh meningkat lagi rasa cinta walaupun perubahan fisik berlaku, justru tapak cinta itu di hati, bukan lagi di ‘body’. Biarlah cinta pasangan kita berubah (walaupun kita terus berdoa agar tidak begitu), tetapi kita tidak akan berubah mencintai Allah.

Yakinlah jika pasangan kita juga mencintai Allah, pasti dia dan kita akan disatukan-Nya semula. Jika tidak, relakanlah perpisahan itu. Jangan bersedih, karena sesuatu yang tidak memanfaatkan pasti tidak boleh memudaratkan!

-ustad pahrol mohamad juoi-

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © EnnLaw | Floating Leaves template designed by ennyLaw | eLaw's Design