Kadangkala aku sendiri kebingungan. Bila
ditusuk soalan demi soalan. Bagi yang telah merasa cinta, bagi yang belum
merasanya. Cinta tidak habis-habis diperkatakan, walaupun telah berkali-kali
aku pesankan bahwa cinta itu bukan Tuhan!
Dulu aku pernah mengingatkan diri sendiri,
dipercayai lebih utama daripada dicintai. Namun, mengapa hati masih tidak mau
percaya? terkadang,
jalan berapi ditempuh jua.
Ah, bujukan nafsu terlalu.
Sudah terantuk baru terngadah. Sudah berdarah, baru berubah.
Pada remaja yang terus bertanya.. Pada ‘retua’ yang
terus meminta.. satu kepastian, satu panduan.. terus-terang kukatakan aku sendiripun terus bertanya dan terus
meminta. Tidak mungkin aku memberikan apa yang aku tidak punya! Tetapi itu
bukan alasan untuk menyerah. Mencari dan terus mencari, itulah yang lebih
berharga. rasa belum memiliki adalah modal terpenting untuk memiliki cinta.. ya,
cinta Allah.
Itulah cinta pertama dan cinta utama. Walaupun
sudah berkali-kali kalimah itu disebutkan, tetapi yang mendengar cuma telinga
dan akal, bukan jiwa dan hati. Hati masih tuli, Jiwa masih alpa. Bila dia berani berkata dan merasa, cinta yang
dicari lebih baik daripada cinta yang ditemui!
-Kiranya berhenti sejenak dalam kelelahan bercinta. Mari kita istirahatkan hati dengan Relakanlah
perpisahan itu karena Allah-
Pernahkah kita terasa tiba-tiba saja
seolah-olah tidak mengenali pasangan kita? Mengapa dia menjadi “manusia lain”?
Seakan-akan kita belum pernah mengenalinya walaupun telah berumahtangga sekian
lama. Jika kita pernah mengalami perasaan itu, jangan terkejut. Ia adalah
perkara biasa. Bukan sesuatu yang luar biasa.
Itu semua gara-gara warna sebenarnya (true colours)
pasangan kita mula terserah. Satu demi satu wataknya yang tersirat mula tersurat.
Mengikut kajian pakar perkawinan, hanya setelah usia lima tahun perkawinan,
barulah masing-masing (suami dan isteri) mengeluarkan semua sikap dan perangai
mereka yang tersembunyi.
Pernah kita dengar
bagaimana keluhan seorang isteri tentang
suaminya. Katanya,
“setelah tiga bulan perkawinan barulah saya sadar bahwa suami saya sebenarnya seorang yang pemarah.” Ironinya, mungkin pasangan itu telah
bercinta (berpacaran) tiga tahun sebelum mereka menikah. Bayangkan, tiga tahun bercinta tanpa
mengenal diri kekasih yang sebenar. Benarlah cinta itu buta.
Cinta kerana nafsu memang buta. Kita dikelabui
oleh daya tarikan fisik sehingga tidak punya mata hati dan akal untuk mengenal siapa yang kita
cintai dengan tepat dan betul. Selama tiga tahun bercinta mungkin yang kita
‘gunakan’ cuma nafsu dan emosi bukan fikiran dan hati. Al hasil, setelah tabir
perkawinan mula diangkat, tabir percintaan pun berlabuh. Realiti tidak seindah
ilusi. Kenyataan berbeda sungguh daripada impian.
Masa bercinta, watak pasangan kita tidak akan terlihat. Dia boleh bermuka-muka dan rela mengikut selera, minat dan jalan hidup
kita. Dan kita juga rela mengikut segala kehendaknya. Kita dan dia mabuk cinta!
Namun semakin lama berumah-tangga, maka semakin ketara kelemahan dan
kekurangan. Apakah dia umpama bulan yang dipuja dikejauhan oleh Sang sastrawan
tetapi botak dan berlopak di mata seorang angkasawan?
Pada tahap ini, ramai yang mula menyesali
diri. Mengapa dia yang ku pilih? Tanpa sedar bahwa pada masa yang sama, dia
juga mungkin berbisik mengapa kita yang dipilihnya? Inilah bibit-bibit yang
boleh meruntuhkan sebuah rumahtanga. Yang nekad, rela berpatah arang lalu
menempuh jalan penceraian. Yang penakut, menunggu dengan resah memendam
perasaan, tanpa ada lagi keceriaan.
Manusia adalah makhluk yang sentiasa berubah.
Ia punya hati yang sangat konsisten untuk berbolak-balik. Bila hati berubah,
fikiran dan tingkah laku juga akan berubah. Untuk kita mengenal manusia
(termasuk pasangan kita) kita terpaksa mengenali perubahan itu. Ah, ini suatu
yang sangat sukar. Untuk mengenal hati sendiripun acapkali kita tidak mampu, apa pula hati orang. Sukar diduga dan ditebak.
Akibatnya, ramai orang yang berkawin dengan
orang yang ‘tidak dikenalinya’. Bukan rupa lahirnya tetapi wajah batinnya. Disangka permata,
rupanya kaca. Cuaca rumah tangga mula berubah. Disangka panas sampai ke petang,
rupanya hujan ditengahari. Situasi inilah yang banyak berlaku dalam rumahtangga
kini hingga menyebabkan perceraian!
Apakah cara mengenal manusia yang serba
kompeks ini? Bagaimana menentukan dengan pasti bahwa pasangan yang bakal kita
pilih itu baik orangnya? Ya, ada tiga cara:
1. Jadi
orang baik.
Maksudnya, kita sendiri coba menjadi orang yang
baik, Insya-Allah kita akan dianugrahi orang yang baik sebagai pasangan hidup kita. Ini janji Allah. Menjadi
orang yang baik perlu diutamakan berbanding ‘mencari’ orang yang baik. Ia lebih
mudah karena
menjadi orang baik bermula dengan diri sendiri.
Perlu diingat, janji mendapat pasangan yang
baik bagi orang yang baik, bukan hanya berlaku pada awal perkawinan. Mungkin
pada awalnya pasangan orang yang baik itu belum begitu baik namun berkat
didikannya, pergaulannya dan doanya maka pasangannya itu berubah menjadi baik selepas mereka berkawin.
Jadi, jangan putus asa sekiranya pada awal
perkawinan kita lihat pasangan kita belum benar-benar baik seperti yang kita
harapkan. Sebaliknya, teruskan usaha untuk menjadi orang yang baik sambil
mendidik dan mendoakan pasangan kita itu. Ingat, setelah berkawin dengan kita,
pasangan kita itu adalah cerminan akhlak dan keperibadian kita. Siapa mereka
sebelum berkawin dengan kita kurang penting, berbanding siapa mereka setelah berkawin dengan
kita.
Justru, tidak kira siapa dia sebelum berkawin
dengan kita, tetapi sebagai suami atau isteri kita komitmen untuk merubah diri
kita sendiri terlebih dahulu seiring usaha merubah dirinya. Jika kita tidak
dapat apa yang kita suka, kita perlu suka dengan apa yang kita dapat. Caranya,
ialah dengan merubah diri kita terlebih dahulu, dan insya-Allah perubahan itu
akan merubah pasangan kita ke arah yang sama.
2. Ikut
pilihan orang baik.
Ada orang yang menyerahkan hak membuat pilihan
kepada orang-orang yang dianggapnya sangat baik dalam hidup ini. Mereka meminta
ibu-bapa, ustaz-ustaz, ulama-ulama atau siapa saja yang dianggap baik untuk memilih
jodoh buat mereka. Mereka pasrah dan menyerah saja. Tetapi dengan satu
keyakinan: Orang yang baik pasti akan memilih orang yang baik sebagai
pasangannya.
Ibu-bapa, para ulama dan orang yang baik-baik
sekali-kali tidak akan menganiayai kita dengan memilih orang yang ‘jahat’
sebagai pasangan hidup kita. Kaedah ini telah dipraktikan oleh anak-anak muda
zaman dahulu yakni ketika nilai-nilai agama belum dicabar oleh nilai Barat yang
kononnya menyanjung hak asasi manusia dan kebebasan bersuara.
Pada pilihan orang yang baik, ada
keberkatannya. Walaupun tidak ada cinta sebelum berkawin, tetapi cinta selepas
berkawin jauh lebih suci dan indah. Cuba kita renungkan, betapa seringkali
rumah tangga ibu-bapa yang berkahwin mengikut pilihan orang tuanya lebih kekal dan harmoni berbanding rumah
tangga anak-anaknya yang kononnya berkawin atas dasar cinta.
Inilah kaedah yang dipraktikan oleh Zainab
yang berkawin dengan lelaki yang menjadi pilihan bapanya (Rasululllah saw). Zainab
setuju atas
pilihan itu karena yakin akan sifat kasih sayang, amanah dan kebijaksanaan ayahnya. Dia
yakin hanya orang baik (Rasulullah saw) mampu mengenal orang baik dan memilih
orang baik sebagai pasangan hidup anaknya.
Justru,
sekiranya kita terlalu sukar untuk mengenali seseorang secara tepat, maka
serahkan sahaja tugas itu kepada orang yang lebih arif untuk mengenalnya.
Jangan cuba membuat penilaian sendiri… Bermuzakarahlah dengan orang yang
baik-baik dan dirikan solat istikharah – pinta petunjuk daripada Allah setelah
pilihan itu diserahkan ke tangan kita. Tidak akan kecewa orang yang
bermuzakarah dan beristikharah!
3.
Cintai Allah yang Maha Baik.
Kita bertekad saja untuk mencintai Allah. Jangan pandang cinta
manusia lagi. Buru cinta yang utama dan pertama (cinta Allah), insya-Allah
cinta kedua, ketiga akan memburu kita. Apabila kita mencintai Allah, Allah akan
mencintai kita dan bila Allah telah mencintai kita, semua orang yang mencintai
Allah akan turut mencintai kita. Rasulullah saw telah bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang
hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku
mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibril pun mencintainya, lalu
Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk
langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai dia.” Maka seluruh
penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap
makhluk Allah di muka bumi ini.” (Hadis Riwayat Bukhari)
Untuk mencintai Allah, kita wajib mencintai
Rasulullah saw. Antara langkah-langkah
mencintai Rasulullah saw itu adalah dengan banyak
berselawat kepadanya, menegakkan sunahnya, menziarahi makamnya dan lain-lain
lagi. Ini adalah obat yang mujarab bagi isteri yang dikecewakan suami atau suami yang
dipinggirkan oleh isteri. Jangan menagih cinta makhluk sampai kita derita dan
sakit hati dibuatnya. Merajuk pada yang kasih, merayu pada yang sudi.. Siapa lagi yang terus
kasih dan sudi mencintai kita ketika semuanya telah berpaling kecuali Allah?
Ya, burulah cinta itu. Cinta Allah mampu
mengekalkan, malah boleh meningkat lagi rasa cinta walaupun perubahan fisik berlaku, justru tapak
cinta itu di hati, bukan lagi di ‘body’. Biarlah cinta pasangan kita berubah
(walaupun kita terus berdoa agar tidak begitu), tetapi kita tidak akan berubah
mencintai
Allah.
Yakinlah jika pasangan kita juga mencintai Allah, pasti dia
dan kita akan disatukan-Nya semula. Jika tidak, relakanlah perpisahan itu.
Jangan bersedih, karena
sesuatu yang tidak memanfaatkan pasti tidak boleh memudaratkan!
-ustad pahrol mohamad juoi-
-ustad pahrol mohamad juoi-
0 komentar:
Posting Komentar